Jumat, 22 November 2013

SEKANTONG TEH HANGAT



SEKANTONG TEH HANGAT

Indah Novita

Aku tau letih pun dirasanya. Kaki tak lagi gentar, pundak kian melayu tapi berbaik ia biarkan tubuh gopahku menambahi bebannya. Badai begitu dahsyat hempas kami yang lesu, tapi pundaknya tetap berbagi padaku. Gontai aku berjalan maka dipapah, dituntun, dan melangkah erat bersama ketulusannya. Akhirnya sampai pada puncak, aku jatuh. Aku rasai tubuhnya kokoh kusandari, kehangatan jiwa membias bangunkan dari tidur yang tak kukehendaki.
Bala bantuan berkerumun kelilingiku, tapi tak kutemukan ia diantaranya. Ya teman, dia menghilang. Warna jingga hiasi langit senja, ini kali ketiganya aku memijak bukit yang sama dan aku tetap terpesona. Ketika langit menghitam maka aku cukupkan cerita dalam rimba hari ini.
+++

Celah ranting mengemuning, kutemui waktu menyelusupkan surya di celah pepohanan. Daun pintu tenda kubuka perlahan dingin begitu menusuk tulang padahal matari sudah dipertiga ufuk timur dan mata terbelalak kudapati ia bersila di depan tenda yang semalaman jadi tempat lepaskan peluhku. “Pagi ndul. Nih ada roti, dimakan yaa” katanya mengawali hari. Aku hanya tersenyum dan memandangi matari pagi. “Yeee..kok bengong si? Buruan dimakan,” segera kulukis roti tawar itu dengan susu coklat kental manis darinya. “Diabisin yaa..” sambil menyumbang senyum, “iya kakak..” kataku tetap dengan memandang matari.
Hari ini kami akan usaikan cerita sesampainya di daratan paling bawah. Menjauhi 2958 Mdpl makin kurasakan segala daya tak lagi miliknya sendiri, upaya ia tumpahkan penuh dan berbagi selalu denganku. Sepanjang tinggalkan jejak menuju kaki bukit kami terus bercengkrama, sesekali sunyi karna nafas yang tinggal segayungan.
Kabut penuhi pandangan dan tak lama butir air mulai basahi tanah-tanah yang terpijak, dan dengan kehatian kami lanjutkan perjalanan, berhenti sejenak pun hanya untuk peroleh sejumput oksigen rambati lubang udara. Tampak wajahnya melayu, maka ku persilahkan ia beristirahat. . “Istirahat dulu yuk kak,” aku menghentikan langkah begitu pula dengannya. Sepertinya lembah terjal yang baru saja kulalui menguras habis sisa tenaga ini, ditambah dengan hujan yang tak kunjung reda.
 “Masih kuat kan Ndul ?”
“kuat dong. Kak eman juga masih kuat gendong aku kan tapinya?”
“kamu pasti capek banget ya? Aku bawain ya tasnya”
“ahaha becanda lagi kak. Aku masih kuat kok. Beneran deh..”
Benar-benar aku tak mampu lihatnya dalam kelelahan yang amat seperti itu, tapi aku pun tak mampu musnahkan letihnya. Berdoa semoga kedua kakinya dapat menopang segala yang dipikulnya, begitu pula dengan pundak yang ada tuk tempatku bersandar kala aku benar-benar tak mampu berdiri sendiri lagi, hanya itu yang mampu aku perbuat.
Hujan yang tak urung pergi buat paru-paru kian bergidik dan ku putuskan untuk meneruskan perjalanan, “kak eman jalan lagi yuk kak” ajakku. Namun ia mencegah, katanya kami harus menunggu barang lima sampai sepuluh menit lagi sampai hujan sedikit mereda. Dengan sedikit waswas pada paru-paruku, aku duduk kembali.
Lima belas menit sudah lalu, hujan pun tak menunjukkan tanda akan bersahabat. Kulihat wajahnya masih tetap sama tergores letih. Maka kali ini aku benar-benar harus lanjutkan perjalanan sendiri.
“Kak, aku duluan ya.. kak eman disni aja dulu tunggu yang lain sampe ujannya reda.”
“kamu ada senter ndul?”
“ga ada kak, insyaallah sebelum gelap udah bisa makan mie rebus di warung Mang Idih”
Sungguh aku berjalan sendiri menyusuri kesunyian dibalik gemericik hujan. Namun tetap berpengharapan ia muncul dengan ketulusannya temani aku kembali disini.
Hektometer  pertama tak nampak, hektometer kedua tak jua kulihat dirinya, hektometer ketiga dan keempat kembali ku tengok dan benar tak ada niat sepertinya ia untuk pedulikan ketakberdayaanku kini. Sepi melangkah sendiri dan menghujat sumpah serapah aku padanya.
“heeeyyy..” suaranya menggema tidak hanya ditelinga tapi sampai ke relung jiwa. Aku tengok dan berbahagia luar biasa kudapati dirinya terengah hampiri aku. Tuhan sungguhkah benar ketulusan itu milikku?.
+++

Tak sesuai perkiraan. Hari mulai gelap, kami belum juga jumpa dengan pemukiman dan bertemu aku dengan kawan lainnya dipinggir lintasan menurun. Suara adzan berkumandang,  kami cukupkan langkah kaki ini sejenak dan merenung serta mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan pada kami. Selama menunggu, hujan dan angin tak juga menyerah terjang kami. Untuk kedua kalinya hampir saja aku biarkan tubuh ini tumpas, tapi melihat wajahnya yang mulai letih rasanya raga seakan menguat dengan sendirinya.
Tapi tak dapat aku bertele dengan makin terhimpitnya ruang gerak paru-paruku, “semuanya aku duluan yaa..” maka kembali berjalan menyusuri rimba pekat malam ini sendiri. Tak kusadari seorang telah berdiri disampingku, “gue temenin ya dek, sini gue gandeng.” Aku hanya tersenyum kemudian di genggamnya jemariku yang mulai kaku dan kami berjalan tanpa dirinya.
Senter yang hanya mampu menerangi setapak jalan membuat langkah melambat, bebatuan yang tak tertata sesekali membuat kaki oleng tersandung. Seorang berteriak dari kejauhan, ya teman itu suaranya. Betapa aku tersanjung kembali dengan lakunya itu.
Kami terus menyusuri jalan setapak yang terasa kian menyebalkan. Tak lama dikejauhan lampu neon kuning yang pancarkan cahaya biar meremang tapi pancaran bahagianya bukan main untuk kami semua. Ya kami sampai di akhir perjalanan. Tapi cerita ini belum berakhir.
+++

Kulihat wajah-wajah pasi setengah gembira meriung di alun-alun bercerita suka cita, tapi aku tak tertarik. Aku mencari kursi yang siap kutopangi dengan semua beban yang kubawa dan aku siap beristirahat. Baru saja mulai masuki dunia indah, seseorang berseru, “ndul kamu baik-baik kan ?” aku terbangun. Tepat pada wajahku yang menyemu berhadap lurus dengan kelopak matanya, kulihat pada wajahnya terbaring kedamaian surga,  ia bagai sebuah langkah yang kudaki demi harapan sesuatu yang kudamba, seperti sentuhan kehidupan ketika jiwa kita sendirian sangat sunyi, teduh dan nyaman. Ia pastikan aku dalam keadaan baik, dan aku pun tak akan berkata lain selain “iya..aku baik-baik aja kok,” dengan bibir menyimpul ketenangan ia tinggalkanku.
Aku tatap punggungnya sampai menghilang dari pandangan dan tak sadar mata telah terpejam kembali. Tapi tak lama ia kembali dan menyentuh lembut tanganku sekejapan, aku pun membuka mata dari tidurku. “Ndul, aku gak yakin kamu jujur. Kamu kalo ga kuat bilang ya,” Sekali lagi ia pastikan kondisiku yang kian menjamur ini, dan kembali aku berkata “ya..aku baik-baik aja kok,” ia tersenyum kemudian pergi kembali.
Entah apa maksud dari lakunya itu, sama sekali tak dapat aku artikan. Mengapa harus sekedar menanyakan kondisi? Mengapa tidak bersandar bersama dan sedikit berbagi cerita denganku? Mengapa datang kemudian pergi lagi? Aku tak tahu pesona apa yang ada pada jiwanya hingga aku ingin sekali menghayati kehidupannya. Entahlah, biar saja itu menjadi rahasianya dan aku tak perlu tahu akan hal itu. Maka kesekiankalinya aku pejamkan mata ini kembali.
Udara menusuk melalui celah pori telapak tangan yang kehilangan sarung penghangat, sungguh tubuh ini tak akan mampu bertahan lebih dari ini kiranya. Dengan mata terpejam aku tetap mencari kehangatan untuk tubuh. Kurasai tepukan pada lutut yang sedari tadi mengayuh angin, aku tegakkan tubuhku dan pasang wajah pias haru. “Nih diminum,” tuturnya lembut dan tangannya menguntai sodorkan sebuah bungkusan. Teman tahukah, sekantong teh hangat diulurkannya.
“Kak, tapi aku ga suka teh anget.”
“berarti sekarang kamu harus suka..”
“lho kok gitu kak. Aku ga suka kak jadi berasa kaya orang sakit kalo minum teh anget.”
“ucok badannya kebangetan sehat, tapi dia minum teh anget. Gak cuma orang sakit yang minum teh anget. Diminum yaa..”
Keteguk juga kehangatan itu akhirnya, pada tegukkan ketiga ia sudah meninggalkanku sendiri lagi dan kesekian kalinya aku kembali pejamkan mata. Tapi tak lama kurasai kantong teh yang kugenggam erat tertarik.
“Kak eman, ngagetin aja deh !”
“Aku pegangin aja. Kamu kayanya pules banget, takut nanti tehnya tumpah kan sayang,”
Tuhan apa lagi maksud lakunya itu ? Hatiku benar dibuat jadi miliknya kini tapi aku tak ingin menghayal untuk dapat berdampingan selalu bersamanya karna aku tak ingin kecewa. Aku hanya tersenyum, dan masih tersenyum aku sampai hari ini.


November 2013

4 komentar: