Sabtu, 23 November 2013

segoresan



Ini kutulis atas dasar kerinduanku pada jumpa pertama dengannya.

Hai, kau yang senang berdiari pada ruang ekspresimu. Apabila kau baca ini, mungkin kau akan menertawakanku karna aku pun selalu menertawakan tingkah anehku belakangan ini. Layaknya bocah smp yang sedang mengagumi seniornya disekolah yaa seperti inilah aku sekarang. Aku hanya mampu menulis dan tak mampu biarkan tulisan ini sampai padamu.

Entah mengapa pertemuan singkat itu tak buahkan cerita yang singkat pula, hati tak jua berhenti bersua meruntutkan cerita semenjak badai hari itu. Mulai ada kerinduan yang hadir disetiap waktu memutar kehidupan, lalu dengan sony aku sampaikan kerinduanku padamu dengan kilah ucpan terimakash. Rupanya sony memiliki sifat amanah, pesan demi pesan disampai dan tersampaikan dilayarnya. Aku bahagia hari itu karna kerinduan sedikit teredam dengan pesan-pesanmu. 

Tapi ternyata membuat percakapan denganmu tak semudah menguras lautan, dan  sudah kehabisan cara kini untuk cukupkan rindu yang terus merajalela. Tak tertampik makin hari rindu ini tak ubahnya seperti tanaman yang membutuhkan siraman tiap harinya, maka setiap kali media sosial kujelajahi berandamu pun tak pernah alfa kusatroni. Kujajaki semua ruang yang ada sampai keruang paling kecil, pada berandamu aku dikenalkan pada sosok gadis pujaanmu yang sempat membuatku panas hati tapi cepat kutangkis karna aku sadar “siapa aku?”. Lalu aku dikenalkan pula pada sosok yang sangat kau kagumi yang sampai saat ini aku hanya mengenal kebaikannya tanpa tau siapa”beliau” yang kau maksudkan. Aku dikenalkan pula pada duniamu, dunia yang tak akan mungkin aku tahu jika aku tak menemukan alamat ruang ekspresimu. Hanya itu yang dapat aku lakukan sampai hari ini. Jika tak ada lagi tulianmu harus dengan cara apalagi aku obati rindu yang tak berkesudahan ini ?  Maka janganlah kamu berhenti menulis sampai kau mau bercengkrama dengan kerinduanku.


Penghujung November, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar