Ini kutulis atas dasar kerinduanku
pada jumpa pertama dengannya.
Hai,
kau yang senang berdiari pada ruang ekspresimu. Apabila kau baca ini, mungkin
kau akan menertawakanku karna aku pun selalu menertawakan tingkah anehku
belakangan ini. Layaknya bocah smp yang sedang mengagumi seniornya disekolah
yaa seperti inilah aku sekarang. Aku hanya mampu menulis dan tak mampu biarkan
tulisan ini sampai padamu.
Entah
mengapa pertemuan singkat itu tak buahkan cerita yang singkat pula, hati tak
jua berhenti bersua meruntutkan cerita semenjak badai hari itu. Mulai ada
kerinduan yang hadir disetiap waktu memutar kehidupan, lalu dengan sony aku
sampaikan kerinduanku padamu dengan kilah ucpan terimakash. Rupanya sony memiliki
sifat amanah, pesan demi pesan disampai dan tersampaikan dilayarnya. Aku bahagia
hari itu karna kerinduan sedikit teredam dengan pesan-pesanmu.
Tapi
ternyata membuat percakapan denganmu tak semudah menguras lautan, dan sudah kehabisan cara kini untuk cukupkan rindu
yang terus merajalela. Tak tertampik makin hari rindu ini tak ubahnya seperti
tanaman yang membutuhkan siraman tiap harinya, maka setiap kali media sosial kujelajahi
berandamu pun tak pernah alfa kusatroni. Kujajaki semua ruang yang ada sampai
keruang paling kecil, pada berandamu aku dikenalkan pada sosok gadis pujaanmu
yang sempat membuatku panas hati tapi cepat kutangkis karna aku sadar “siapa aku?”.
Lalu aku dikenalkan pula pada sosok yang sangat kau kagumi yang sampai saat ini
aku hanya mengenal kebaikannya tanpa tau siapa”beliau” yang kau maksudkan. Aku dikenalkan
pula pada duniamu, dunia yang tak akan mungkin aku tahu jika aku tak menemukan
alamat ruang ekspresimu. Hanya itu yang dapat aku lakukan sampai hari ini. Jika
tak ada lagi tulianmu harus dengan cara apalagi aku obati rindu yang tak
berkesudahan ini ? Maka janganlah kamu
berhenti menulis sampai kau mau bercengkrama dengan kerinduanku.
Penghujung November, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar