Takdir
Hari ini batin ku bertengkar
hebat sejak fajar menyaksi hingga jingga menyambut rembulan yang memalu, batin
ini masih saja mengaduh. Sebelumnya saat langit lebam aku berkali-kali ulurkan
tangan dan menengadah lurus dengan ujung atap yang menjuntai dibalik jendela, rasanya
dengan lembut gerimis dapat menyapa dua telapak yang mulai kehilangan keyakinan.
Ku lihat dengan pasti gerimis menjelma badai, dengannya ku beri hak pula pada semesta
membuncah kepenatan yang menghuni batin. Dalam badai aku lamuni yang batinku hendaki,
semua berbicara tentang masa depan.
Aku mulai resah jika
menyoal hidup dimasa depan. Tidak masalah selama tidak ada pilihan yang
dijatuhkan. Namun kenyataan, hidup selalu memaksa ku untuk memilih satu dari pilihan
yang ada, dan kekhawatir jatuh pada pilihan yang kurang tepat selalu merajut. Kali
ini Tuhan menguji hatiku, pekerjaan yang sangat berat jika harus menentukan
pilihan. Selama ini rasa syukur ku belum pernah berkurang dengan adanya Rama di
sampingku, aku setuju akan takdirNya itu padaku. Rama adalah teman terbaik, ia
selalu memahami kesalahanku. Rama selalu berkata seperti ini “jika mencintaimu
aku harus merasa sakit, maka aku akan mencintai kesakitan itu.” Jika demikian
baik budinya, wanita mana yang bisa menyianyiakan malaikat sepertinya.
Jalinan kasih antara
diriku dengan Rama adalah yang paling khusyuk, hubungan kami ini satu takdir
yang telah Tuhan gariskan. Karenanya hatiku tidak pernah mencoba mengeja nama
lain, bagiku Rama selalu lebih dari cukup. Ia memang tidak sempurna tapi ia
adalah orang yang selalu ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik untuk
diriku. Namun ada satu takdir labuhan cinta yang sulit dibantah, Rama selalu
berjanji untuk gagah memerangi takdir itu sekalipun kami percaya itu tidak akan
mungkin. Semua orang juga mulai berbicara tentang aku juga Rama, “tidakkah
cukup tujuh tahun lamanya?” seseorang berkata demikian. “Aku percaya takdirku
adalah bersama Rama, tidak seorang pria pun mampu tandingi ia.” Kataku tetap
teguh.
***
Aku mengitari sepi di
pekaragan, melangkah meratap ketidakadilan. Lama melangkah, kaki menuntun
menuju kebun teh yang tengah siap panen. Bu Marta sedang bersiap memilah pucuk
teh yang siap ditukar uang, aku menghampiri “dimana Pak Marta Bu? Aku tidak
melihatnya.” Kataku memulai percakapan.
“Atuh si Bapak lagi
sakit Neng. Ibu dibantu sama Ical, ituh orangnya!” sambil menunjuk putra
sulungnya.
“Loh, Ical gak kerja
bu?” tanyaku
“Sedang libur Neng dia.”
Jelas bu Marta
Ical menghampiri kami
dengan punggung yang dibebani ranjang daun teh, ia memberi salam pada kami dan
disegerakan memetik daun-daun teh. Aku ingin membantu mereka, barangkali
kepenatanku dapat kulupakan sejenak. Ku hampiri Ical di tengah kebun. “Mila
jangan, kamu duduk disana aja, panas. Nanti kamu jadi hitam kulitnya.” Larang Ical
“Aku ga takut item,
izinin aku yaa buat bantuin kamu...”
“Tumben kamu mau main
ke kebun”
“Aku selalu ke kebun,
justru kamu yang tumben ada di kebun.”
“Hehe iya ya... kebetulan
saya lagi libur Mil,”
“Iya aku tau, ibu kamu
tadi juga udah bilang”
Matari sudah gagah berada
pada puncak hari, begitu terik dan tegar menyaksi. Ku lihat bu Marta sudah
kipas-kipas dengan topi caping yang mulai camping. Diikuti oleh Ical aku
menghampiri bu Marta di bale, rasanya segelas air teh menjadi sangat nikmat
ketika sedang merasa dalam dehaga yang luar biasa. Tidak lama aku langsung
berpamitan, karna sepertinya Rama sudah menunggu di rumah. “Hati-hati Mil,
terima kasih udah bantuin saya tadi.” Kata Ical. “Aku juga terima kasih karna
udah dizinin untuk ngerepotin kalian.” Aku langsung berlalu.
Mil, ada pengajian nanti malam di rumah
saya. Kalau ada waktu sempatkan datang
yaa...
Ical
***
Semua pertemuan bukan
tanpa alasan, Tuhan menyambungkan silaturahmi antara orang satu dengan lainnya
bukan tanpa alasan. Tiga pekan belakangan seseorang sibuk memberi kebaikannya
padaku, pria berbudi baik dengan pemahaman iman yang terpuji. Ia memiliki yang
Rama tidak miliki, tapi barang tentu yang Rama miliki tidak dimilikinya juga. Aku
paham bahwa sebenar-benarnya itu bukan kekurangan melainkan takdir Tuhan,
apakah kita memiliki pilihan jika memang sudah kehendakNya? Takdir itu sulit
dihindari, tidak ada kemampuan untuk melawannya. Tapi pria itu, Ical, aku baru
mengenalnya lebih dekat dari sebelumnya. Walau kami bertetangga tapi kami
jarang berpapasan sebab kesibukan masing-masing.
Beberapa kali Ical
menyanjungku, membuatku lupa akan takdirku dengan Rama. Setiap hari dikirimi
pesan-pesan, ia mengkhawatirkan ku ketika aku sedang tidak dalam keadaan baik,
ia memberikan apa yang aku inginkan, ia berlaku seolah-olah memiliki tanggung
jawab atas diriku. Budinya baik seperti Rama, hanya dengan takdir yang lebih
disukai keluargaku. Awalnya aku mengira lakunya adalah selayaknya sahabat baik,
tapi kakak ku merasakan ada yang terasa lain pada hubungan kami hingga rasaku
menjadi lain. Aku mulai memikirkan apa-apa nasihat yang telah dikatakan kakak, “La,
kakak paham Rama itu cintamu. Tapi takdir kita dengan Rama tidak sama. Kamu harus
coba membuka hatimu, tidak akan salah jika dalam hidup kita mencari yang paling
baik. Mungkin benar kamu bahagia dengannya sekarang, tapi setelah kehidupan
masihkah kamu bahagia dalam surgaNya?” semua yang dikatakannya itu benar.
Aku terus merasa bersalah
ketika aku menerima kebaikan Ical, pada kasih mereka. Jika mereka adalah orang
baik, maka memilih satu diantara keduanya adalah kejahatan. Rasa bersalah ku
rasakan, bahkan ketika musik mengalun seirama dengan yang terjadi aku tidak
kuasa menahan air yang muncul pada kantung mata. Aku khawatir jika harus
kehilangan satu diantara mereka. Tuhan benar-benar menguji hatiku.
Entah kebenaran apa
yang sampai pada telinga Ical hari itu, malamnya kami masih saling bercerita
tentang masing-masing di beranda rumahnya, tapi hari berikutnya tidak satu
pesan pun diberikannya padaku. Aku mencoba menghubunginya, ia manjawab
seperlunya. Aku melambai keriangan padanya, ia hanya senyum dan berlalu. Aku sadar,
ini kesalahanku tidak seharusnya meneriap dua cinta bila hanya memiliki satu
hak saja.
***
Aku makin cemas saat ia
tidak menghubungiku, aku sedih ketika tidak bisa bertemu dengannya. Ini sudah
hari ketujuh dan ia masih belum mencoba menghubungiku. Aku berpikir sepertinya
apa yang dikatakan kakak tentang Ical salah. Ical tidak ada rasa lain padaku,
sikap baiknya murni sebagai sahabat. Tapi aku terlanjur berharap dan kagum pada
kepribadian dan nilai-nilai yang ia junjung. Aku sempat memikirkan masa depanku
akan dipimpin dengan imam terbaik. Tapi disisi lain Rama tetap mengindahkan
aku. Kini aku hanya mengikuti kemana takdir akan membawa cintaku. Aku tahu yang
ditakdirNya adalah sebaik-baiknya yang kuperoleh. Tapi baik Rama maupun Ical
perlu tau bahwa aku mengagumi kalian. Aku resah bila kalian tidak menyapa pagi
juga malamku. Aku juga berdoa pada Tuhan;
“Tuhan, jika aku jatuh
cinta izinkan aku untuk jatuhkan hatiku pada seseorang yang melubuhkan cintanya
padaMu.”
Indah Novita