Jumat, 06 Mei 2016

Takdir

Takdir

Hari ini batin ku bertengkar hebat sejak fajar menyaksi hingga jingga menyambut rembulan yang memalu, batin ini masih saja mengaduh. Sebelumnya saat langit lebam aku berkali-kali ulurkan tangan dan menengadah lurus dengan ujung atap yang menjuntai dibalik jendela, rasanya dengan lembut gerimis dapat menyapa dua telapak yang mulai kehilangan keyakinan. Ku lihat dengan pasti gerimis menjelma badai, dengannya ku beri hak pula pada semesta membuncah kepenatan yang menghuni batin. Dalam badai aku lamuni yang batinku hendaki, semua berbicara tentang masa depan.

Aku mulai resah jika menyoal hidup dimasa depan. Tidak masalah selama tidak ada pilihan yang dijatuhkan. Namun kenyataan, hidup selalu memaksa ku untuk memilih satu dari pilihan yang ada, dan kekhawatir jatuh pada pilihan yang kurang tepat selalu merajut. Kali ini Tuhan menguji hatiku, pekerjaan yang sangat berat jika harus menentukan pilihan. Selama ini rasa syukur ku belum pernah berkurang dengan adanya Rama di sampingku, aku setuju akan takdirNya itu padaku. Rama adalah teman terbaik, ia selalu memahami kesalahanku. Rama selalu berkata seperti ini “jika mencintaimu aku harus merasa sakit, maka aku akan mencintai kesakitan itu.” Jika demikian baik budinya, wanita mana yang bisa menyianyiakan malaikat sepertinya.

Jalinan kasih antara diriku dengan Rama adalah yang paling khusyuk, hubungan kami ini satu takdir yang telah Tuhan gariskan. Karenanya hatiku tidak pernah mencoba mengeja nama lain, bagiku Rama selalu lebih dari cukup. Ia memang tidak sempurna tapi ia adalah orang yang selalu ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik untuk diriku. Namun ada satu takdir labuhan cinta yang sulit dibantah, Rama selalu berjanji untuk gagah memerangi takdir itu sekalipun kami percaya itu tidak akan mungkin. Semua orang juga mulai berbicara tentang aku juga Rama, “tidakkah cukup tujuh tahun lamanya?” seseorang berkata demikian. “Aku percaya takdirku adalah bersama Rama, tidak seorang pria pun mampu tandingi ia.” Kataku tetap teguh.

***

Aku mengitari sepi di pekaragan, melangkah meratap ketidakadilan. Lama melangkah, kaki menuntun menuju kebun teh yang tengah siap panen. Bu Marta sedang bersiap memilah pucuk teh yang siap ditukar uang, aku menghampiri “dimana Pak Marta Bu? Aku tidak melihatnya.” Kataku memulai percakapan.

“Atuh si Bapak lagi sakit Neng. Ibu dibantu sama Ical, ituh orangnya!” sambil menunjuk putra sulungnya.
“Loh, Ical gak kerja bu?” tanyaku
“Sedang libur Neng dia.” Jelas bu Marta

Ical menghampiri kami dengan punggung yang dibebani ranjang daun teh, ia memberi salam pada kami dan disegerakan memetik daun-daun teh. Aku ingin membantu mereka, barangkali kepenatanku dapat kulupakan sejenak. Ku hampiri Ical di tengah kebun. “Mila jangan, kamu duduk disana aja, panas. Nanti kamu jadi hitam kulitnya.” Larang Ical

“Aku ga takut item, izinin aku yaa buat bantuin kamu...”
“Tumben kamu mau main ke kebun”
“Aku selalu ke kebun, justru kamu yang tumben ada di kebun.”
“Hehe iya ya... kebetulan saya lagi libur Mil,”
“Iya aku tau, ibu kamu tadi juga udah bilang”

Matari sudah gagah berada pada puncak hari, begitu terik dan tegar menyaksi. Ku lihat bu Marta sudah kipas-kipas dengan topi caping yang mulai camping. Diikuti oleh Ical aku menghampiri bu Marta di bale, rasanya segelas air teh menjadi sangat nikmat ketika sedang merasa dalam dehaga yang luar biasa. Tidak lama aku langsung berpamitan, karna sepertinya Rama sudah menunggu di rumah. “Hati-hati Mil, terima kasih udah bantuin saya tadi.” Kata Ical. “Aku juga terima kasih karna udah dizinin untuk ngerepotin kalian.” Aku langsung berlalu.

Sampai di rumah Rama belum juga datang, ia mengirim pesan dan mengatakan bahwa ibunya memintanya untuk mengantar pergi berbelanja. Ada pesan lainnya, bukan dari Rama tapi dari nomor yang tidak ku kenal.

    Mil, ada pengajian nanti malam di rumah
    saya. Kalau ada waktu sempatkan datang yaa...
    Ical

***

Semua pertemuan bukan tanpa alasan, Tuhan menyambungkan silaturahmi antara orang satu dengan lainnya bukan tanpa alasan. Tiga pekan belakangan seseorang sibuk memberi kebaikannya padaku, pria berbudi baik dengan pemahaman iman yang terpuji. Ia memiliki yang Rama tidak miliki, tapi barang tentu yang Rama miliki tidak dimilikinya juga. Aku paham bahwa sebenar-benarnya itu bukan kekurangan melainkan takdir Tuhan, apakah kita memiliki pilihan jika memang sudah kehendakNya? Takdir itu sulit dihindari, tidak ada kemampuan untuk melawannya. Tapi pria itu, Ical, aku baru mengenalnya lebih dekat dari sebelumnya. Walau kami bertetangga tapi kami jarang berpapasan sebab kesibukan masing-masing.

Beberapa kali Ical menyanjungku, membuatku lupa akan takdirku dengan Rama. Setiap hari dikirimi pesan-pesan, ia mengkhawatirkan ku ketika aku sedang tidak dalam keadaan baik, ia memberikan apa yang aku inginkan, ia berlaku seolah-olah memiliki tanggung jawab atas diriku. Budinya baik seperti Rama, hanya dengan takdir yang lebih disukai keluargaku. Awalnya aku mengira lakunya adalah selayaknya sahabat baik, tapi kakak ku merasakan ada yang terasa lain pada hubungan kami hingga rasaku menjadi lain. Aku mulai memikirkan apa-apa nasihat yang telah dikatakan kakak, “La, kakak paham Rama itu cintamu. Tapi takdir kita dengan Rama tidak sama. Kamu harus coba membuka hatimu, tidak akan salah jika dalam hidup kita mencari yang paling baik. Mungkin benar kamu bahagia dengannya sekarang, tapi setelah kehidupan masihkah kamu bahagia dalam surgaNya?” semua yang dikatakannya itu benar.

Aku terus merasa bersalah ketika aku menerima kebaikan Ical, pada kasih mereka. Jika mereka adalah orang baik, maka memilih satu diantara keduanya adalah kejahatan. Rasa bersalah ku rasakan, bahkan ketika musik mengalun seirama dengan yang terjadi aku tidak kuasa menahan air yang muncul pada kantung mata. Aku khawatir jika harus kehilangan satu diantara mereka. Tuhan benar-benar menguji hatiku.

Entah kebenaran apa yang sampai pada telinga Ical hari itu, malamnya kami masih saling bercerita tentang masing-masing di beranda rumahnya, tapi hari berikutnya tidak satu pesan pun diberikannya padaku. Aku mencoba menghubunginya, ia manjawab seperlunya. Aku melambai keriangan padanya, ia hanya senyum dan berlalu. Aku sadar, ini kesalahanku tidak seharusnya meneriap dua cinta bila hanya memiliki satu hak saja.

***

Aku makin cemas saat ia tidak menghubungiku, aku sedih ketika tidak bisa bertemu dengannya. Ini sudah hari ketujuh dan ia masih belum mencoba menghubungiku. Aku berpikir sepertinya apa yang dikatakan kakak tentang Ical salah. Ical tidak ada rasa lain padaku, sikap baiknya murni sebagai sahabat. Tapi aku terlanjur berharap dan kagum pada kepribadian dan nilai-nilai yang ia junjung. Aku sempat memikirkan masa depanku akan dipimpin dengan imam terbaik. Tapi disisi lain Rama tetap mengindahkan aku. Kini aku hanya mengikuti kemana takdir akan membawa cintaku. Aku tahu yang ditakdirNya adalah sebaik-baiknya yang kuperoleh. Tapi baik Rama maupun Ical perlu tau bahwa aku mengagumi kalian. Aku resah bila kalian tidak menyapa pagi juga malamku. Aku juga berdoa pada Tuhan;
“Tuhan, jika aku jatuh cinta izinkan aku untuk jatuhkan hatiku pada seseorang yang melubuhkan cintanya padaMu.”




Indah Novita

Jumat, 04 Desember 2015

Berlalu...

Melepaskannya bukanlah hal yang aku inginkan dan aku tidak mampu lebih lama membiarkannya ada dalam penjaraku yang semakin kokoh. Aku pasrahkan pada takdir, entah pilihan mana yang terbaik untuk ku, tentunya apapun pilihannya akan aku coba syukuri.

Sebulan berlalu, ia belum juga pergi dari pikiranku, rupanya empat tahun belakangan ia terlalu pandai mencipta cerita-cerita cinta yang justru kini membuatku sesak. Pada layar komputer, layar laptop, juga layar hape aku masih memandang wajahnya merona penuh harap. Harapan supaya ia tidak ada dalam pilihan, karna ia bukan pilihan ia adalah kehendak hatiku. Apa hatiku hancur? Mungkin. 

Mungkin ia pergi dariku, tapi aku tidak. Aku selalu mencoba tidak alfa untuk mendapatkan kabar tentangnya. Sampai pada hari yang tak ku inginkan, kudapatkan kenyataan bahwa padanya ada cinta yang lain. Cinta yang mungkin akan membuatnya lebih bahagia, cinta yang bisa jadi jodohnya, cinta yang jelas membuat hatiku makin tak tertata. Apa? Air apa ini? Kenapa juga mataku terasa pedih, mungkin angin berhembus terlalu kencang, akan ku tutup jendelanya. Tidak, mataku mengeluarkan air lebih banyak lagi, kini aku merasa basahnya sampai pada ulu hati. Tidak boleh seperti ini. Aku harusnya bisa bernafas lega, karna aku tak perlu lagi khawatir terhadapnya, disampingnya akan selalu ada cinta lain yang juga mencintanya menjaga tiap-tiap waktu yang berlalu.

Aku mulai mengenal pria itu, ya dari media sosial juga cerita dari sahabatku. Sepertinya aku tidak pantas dibandingkan dengannya, karna jelas aku bukan tandingan yang sepadan baginya. Ia terlihat seperti pria idaman banyak wanita, sedang aku…lihat tak ada kiranya dari diriku yang dapat mengunggulinya. Aku sudah harus berlatih melihat ia dengan pilihannya.

Pekerjaan ku mulai terganggu, tapi teman-teman terus menyemangatiku. Aku mulai mencoba mengalihkan pikiranku dengan kesibukan lainnya, barangkali dengan semua kesibukan secara perlahan mampu membantu ku melupakannya. Pagi hingga senja aku bekerja, malamnya aku mencari kegiatan-kegiatan lain.

Di kantor ku banyak wanita memakai rok mini, mereka terlihat cantik dengan rambut terurai juga dengan riasan yang melapisi wajah-wajah mereka. Anehnya pikiranku tidak juga merasa tertarik pada wanita-wanita itu. Mereka memang terlihat cantik untuk dipandang dengan mataku, tapi tidak jika dipandang dengan hatiku. Di sebelah rumah, pak Karto juga memiliki putri yang cantik, perilakunya pun terpuji, namanya Nadya. Ia selalu malu-malu setiap kali berpapasan denganku. Aku pun mencoba membuka hatiku untuknya dan menaruh simpatik terhadapnya, mungkin ia dapat membantu menata kembali hatiku.

Aku sempat beberapakali pergi bersama Nadya entah sekadar mencari buku atau membeli video game. Nadya memang cantik, baik hati, menarik, juga asik, pun ia juga memberi sedikit warna pada ceritaku tiga pekan terakhir. Pada pekan keempat ini, aku mengajaknya untuk makan malam di sebuah resto dengan nuansa retro, Nadya suka retro dan itu alasanku mengajaknya ke tempat ini.

“Ren, aku suka banget tempat ini, sumpah!”
“berarti aku sukses mengenal kamu”

Nadya menatap mata ku, aku malah tersipu dan salah tingkah. “hahahaha….” Tawanya membuncah, kemudian ia terdiam lagi aku masih salah tingkah. “Ren, kalau kamu terus bersikap kaya gini….aku jadi…” ia memutus ucapnya dan aku masih tetap salah tingkah, “Ren, kok diem aja si?” lanjutnya.

“eh enggak Nad. Abis kamu bikin gemes si”
“kalo aku sayang sama kamu gimana?”
“hah?”
“haha…becanda.”

Suasana menjadi hening, apa artinya ini? Apa memang sudah waktunya? Nadya kah pilihannya? Aku bingung, aku jadi kikuk pun dengan Nadya. Ia menutupi dengan memainkan hapenya. Kami benar-benar seperti sepasang muda-mudi yang aneh, duduk satu meja tapi saling bisu. Mungkin memang Nadya orangnya. Aku mencoba membuka pembicaraan,

“Nad, di sms sama papa?
“Enggak kok Ren”
“Pertanyaan tadi ga serius aja Nad?”
Nadia diam
“hmmmm….aku sayang sama kamu Ta.”
“Ta?” ulang Nadya.

Nadya seketika meninggalkan meja kami, ia lari keluar dan aku mengejarnya. Ia berjalan dengan sangat cepat, di depan resto ia memberhentikan taxi dan segera menghilang dari pandanganku. Tuhan, apa yang barusan aku ucapkan, kenapa juga salah menyebut namanya.

Sampai di rumah aku lihat kamar Nadya mati lampunya, barangkali ia sudah tidur. Aku amat merasa bersalah kepadanya. Hape ku berbunyi, ada pesan dari Nadya rupanya.
“Tidak seharusnya kamu memaksakan hatimu jika di dalamnya masih ada Cinta yang paling dicinta. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja. Justru kamu perlu mengkhawatirkan dirimu.”

Aku pikirkan setiap perkataan Nadya. Ia benar, aku telah menipu diriku sendiri. Aku tidak cukup tangguh untuk melupakannya apa lagi sampai membencinya. Ada hal yang tidak dimiliki perempuan lain selain Cinta, hatiku. Ya hatiku masih memilihnya sampai hari ini.

Aku mencoba menenangkan diri, aku pergi ke sebuah kafe yang di dalamnya juga terdapat perpustakaan. Harapannya dengan aku ke perpustakaan aku bisa membaca buku-buku cerita sebagai wahana pelipur duka. Aku tidak membaca buku dengan baik, pikiran ku terganggu. Aku selalu menoleh ke arah rak-rak makanan disana, bukan, aku tidak lapar. Aku melihatnya, ya aku melihatnya. Ia kenakan jilbab pemberianku, juga mantel hijau yang ku belikan dari Eropa, Tuhan jangan biarkan ia melihatku. Aku berbalik badan.

“Ren…”
“Haii… Ta.”
“Ngapain disini?”
“Nugas, lu?”
“Nih belanja buat nugas juga, sorry ga bisa lama nih Ren gue harus cepet-cepet balik. Duluan ya…”
“Iya Ta”

Mati separuh otak tak berjalan sesuai fungsinya. Bola mataku terus membututinya sampai ia keluar kafe, benar saja ada Hans disana. Mereka berlalu, tapi tidak dengan pikiranku. Tidak ada buku yang ku baca, terlalu rumit otakku membaginya.

Aku beri tahu Mira tentang kejadian tadi, ia pun tak tau mesti menanggapi ceritaku seperti apa, tapi Mira juga cerita bahwa Cinta juga cerita tentunya dengan perbandingan perasaan yang sangat berbeda denganku. Kami bersahabat sejak SMA Mira, Nata, Cinta dan aku. Kami sempat merencanakan untuk berlibur bersama, memiliki banyak daftar tempat wisata untuk bergilaran di kunjungi, tapi tidak semapat itu terwujud karna renggangnya hubunganku dengan Cinta.

Aku mulai sadar, tidak lagi Cinta, bukan lagi Cinta, dan tidak melulu perkara Cinta. Aku bersungguh akan membangun kembali semuanya dari awal. Aku harus memikirkan masa depan ku, orang tuaku jadi alasan pertama mengapa aku harus memikirkan dan meraih cita-citaku. Mereka orang yang hebat yang pernah ku miliki, selalu ada, dan tidak pernah meninggalkan aku. Ya mereka tidak pernah meninggalkan ku, maka aku pun tidak akan membuat kecewa.

Enam bulan berlalu, Mira yang senang jalan-jalan mencoba menghubungi aku juga Nata dan Cinta. Semua sudah diatur denga rapi, aku pun merapikan diri. Tidak, aku tidak mencoba untuk menarik perhatian Cinta, tidak sama sekali. Aku sudah menerima segalanya, menerima Cinta sebagai sahabat, ya sahabat tidak lebih. Belakangan aku tidak ingin memikirkan wanita, aku fokus pada apa yang orang tua ku harapkan dariku, dan melihat Cinta bahagia dengan Hans aku pun senang. Baik, pekan ini kami akan belibur ke Bengkulu tiket pesawat sudah ditangan juga kotage 3 hari 2 malam telah dibooking. Akhirnya rencana yang sempat tidak terlaksana kita tidak lagi hanya menjadi wacana.

Aku bangun pagi-pagi, sarapan seadanya dan langsung berangkat menuju rumah Nata yang bersedia menjadi base camp untuk kita.

“Mir, mana Cinta?” tanya Nata.
“tau deh Ta… ga ada kabar”
“Lah terus gimana? Kita nguber pesawat juga”
“Yaudah kita jalan aja ke bandara, ntar Cinta biar nyusul. Mir, lu terus calling Cinta ya” aku mencoba mengambil keputusan.
“eh Cinta sms gue nih Ta, Ren…”
“Apaan Mir isinya?” Tanya Nata.

Mira membacakan pesannya, aku kecewa. Bukan karna Cinta tidak ikut, tapi lebih pada alasan yang melatarbelakanginya. Apa yang salah dari sikapku? Aku hanya ingin persahabatan ini tidak putus. Aku sungguh telah menghargainya dan menyayangi ia tidak lebih dari seorang sahabat. Kalau saat ini aku masih sendiri bukan karna aku masih berharap padanya, tapi memang itu pilihanku.


Indah Novita 

Sabtu, 30 November 2013

Cerita Cinta



CERITA CINTA
Detak jantung terus berlantun, langkah kaki tetap bertepadu, dalam lembaran penuh warna kehidupan, angan yang terpendam akan terwujud, cita-cita yang tinggi akan tergapai dengan usaha serta keriangan dan kesungguhan itulah arti dari mencintai diri sendiri. Jika kita mencintai seseorang kita akan senantiasa untuk mendoakannya walaupun dia tidak berada di sisi kita.
Tuhan memberikan kita dua buah kaki untuk berjalan, dua buah tangan untuk memegang, dua mata untuk melihat, dua buah telinga untuk mendengar, tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati kepada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping hati lagi pada seseorang untuk kita mencarinya, itulah cinta.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kita masih mau mencoba, jangan sesekali menyerah jika kita masih merasa sanggup, jangan pernah sesekali mengatakan kita tidak mencintainya lagi jika kita masih tidak dapat melupakan. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah di kecewakan, kepada mereka yang masih percaya walaupun mereka telah di khianati, kepada mereka yang masih ingin mencintai walaupun mereka telah di sakiti sebelumya, dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.
Jangan sampai kita menyimpan kata-kata cinta kepada orang yang tersayang hingga dia meninggal dunia dan akhirnya kita terpaksa mencatat kata- kata cinta itu pada pusaranya. Sebaiknya  ucapkanlah kata-kata cinta yang tersimpan di benak kita, sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta kepada orang yang salah, sebelum bertemu pada orang yang tepat. Kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut. Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu menjadi emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai kita, tetapi lebih meyakitkan adalah mencintai seseorang dan kita tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cinta itu kepadanya. Seandainya kita ingin mencintai atau memiliki hati seseorang ibaratkanlah kita seperti menyunting sekuntum mawar merah, kadang kala kita menyium wangi mawar tersebut, tetapi ada kalanya di saat duri mawar itu menusuk jari.
Hal yang meyedihkan dalam hidup adalah kita bertemu seseorang yang sangat berarti bagi kita hanya untuk menemukan dan pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kita harus membiarkannya pergi. Kadang kala kita tidak menghargai orang yang mencintai kita sepenuh hati sehingga kita kehilangannya, pada saat itu tiada guna penyesalan karna perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar 'siapa dia sekarang!' dan bukan 'siapa dia sebelumya' kisah silam tidak perlu diungkit lagi, sekiranya kita benar-benar mencintainya setulus hati.
Hati-hati dengan cinta, karna cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu! kemungkinan apa yang kita sayangi atau mencintai tersimpan keburukan di dalamnya dan kemungkinan apa yang kita benci tersimpan kebaikan didalamnya.
Cinta kepada harta artinya bakil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri sendiri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya taqwa. Lemparkanlah seseorang yang bahagia dalam percintaan ke dalam laut pasti dia akan membawa seekor ikan, lemparkanlah pula seseorang yang gagal dalam bercinta ke dalam segudang roti pasti dia akan mati kelaparan.
Seandainya kita dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu akan berubah menjadi gong yang bergaung atau cuma sekedar cawang yang bergemerincing. Cinta adalah keabadian dan kenangan adalah hal terindah dalam cinta yang pernah dimiliki. Siapapun pandai menghayati cinta, tetapi tak seorang pun pandai menyalahi cinta, karna cinta bukanlah sesuatu objek yang bisa didapat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan. Cinta mampu melunakan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati, dan meniupkan kehidupan padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin itulah dasarnya cinta.
Cinta sebenarnya membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya seperti gambaran yang kita inginkan, jika tidak kita hanya mencintai pantulan dari diri kita sendiri yang kita temukan dari dalam dirinya. Kita tidak akan pernah tau bila kita akan jatuh cinta, namun apabila sampai saatnya itu raihlah dengan kedua tanganmu dan jangankan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya di hatinya.  Cinta bukanlah kata yang murah, tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci, jika manusia dapat melihat dan menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah, tetapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai? Itulah yang sukar untuk diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sebenarnya untuk mengecewakan lebih baik cinta itu tidak pernah hadir, karna cinta sesuatu yang membawa keindahan dan kebahagian dalam diri.
Cinta itu seperti kupu-kupu tanpa dikejar tanpa lari, tapi kalau di biarkan terbang dia akan datang di saat kita tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia, tapi sering juga bikin sedih. Tapi cinta baru berharga jika kita memberinya kepada orang yang berharga, jadi janganlah berburu-buru dan pilih yang terbaik. Cinta bukan 'bagaimana menjadi pasangan yang sempurna bagi seseorang' tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapa membantu menjadi dirimu sendiri, jangan pernah bilang 'i love you' kalo kita tidak pernah perduli, jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada, jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu untuk menghancurkan hatinya, jangan pernah menatap matanya kalau semua yang dilakukan kita hanya untuk berbohong.
Hal paling kejam yang seseorang lakukan pada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kita tidak meneriap menangkapnya. Cinta bukan 'ini salah kamu!' tapi maafkan aku, bukan 'kamu dimana sih?' tapi aku disini, bukan 'gimana sih kamu?' tapi aku ngerti kok, bukan 'coba kamu ngga kayak gini' tapi aku cinta kamu seperti kamu apa adanya.
Membandingi kertas yang paling benar bukan diukur berdasarkan kita sudah bersama, maupun kita seberapa sering bersama, tapi apakah selama kita bersama kita selalu saling mengisi satu sama lain dan selalu membuat hidup yang berkualitas. Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kita inginkan dan hanya menyayat sedalam yang kita ijinkan. Yang berat bukan bagaimana cara menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar dari dirinya.
Cara jatuh cinta, jatuh..tapi jangan teruyung-uyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah jangan terlalu banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah menyimpan semua kesedihan itu. Memang, sakit melihat orang yang kita cintai sedang berbahagia dengan orang lain. Tapi  lebih sakit lagi melihat orang yang kita cintai itu tidak berbahagia bersama kita.
Cinta akan meyakitkan ketika kita berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kita dilupakan kekasih, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kita sayangi tidak tau apa yang sesungguhnya yang kita rasakan. Yang paling menyedihkan dalam hidup ini adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kita, dan kita sudah menghabiskan waktu yang banyak untuk orang yang tidak pernah menghargainya. Kalau dia berkata tidak, maka dia tidak akan pernah berkata iya, setahun lagi atau sepuluh tahun lagi. Biarkan dia pergi! Cinta adalah semangat, cinta adalah kepercayaan, cinta adalah energi yang tidak bisa dimusnahkan, ia hanya bisa berubah bentuk. Cinta memang tak harus memiliki, karna mencintai berati memberi dan tak pernah meminta.

-Ini adalah tulisan dari sebuah rekaman seseorang yang tiba-tiba diputar oleh lepiku- 

Sabtu, 23 November 2013

segoresan



Ini kutulis atas dasar kerinduanku pada jumpa pertama dengannya.

Hai, kau yang senang berdiari pada ruang ekspresimu. Apabila kau baca ini, mungkin kau akan menertawakanku karna aku pun selalu menertawakan tingkah anehku belakangan ini. Layaknya bocah smp yang sedang mengagumi seniornya disekolah yaa seperti inilah aku sekarang. Aku hanya mampu menulis dan tak mampu biarkan tulisan ini sampai padamu.

Entah mengapa pertemuan singkat itu tak buahkan cerita yang singkat pula, hati tak jua berhenti bersua meruntutkan cerita semenjak badai hari itu. Mulai ada kerinduan yang hadir disetiap waktu memutar kehidupan, lalu dengan sony aku sampaikan kerinduanku padamu dengan kilah ucpan terimakash. Rupanya sony memiliki sifat amanah, pesan demi pesan disampai dan tersampaikan dilayarnya. Aku bahagia hari itu karna kerinduan sedikit teredam dengan pesan-pesanmu. 

Tapi ternyata membuat percakapan denganmu tak semudah menguras lautan, dan  sudah kehabisan cara kini untuk cukupkan rindu yang terus merajalela. Tak tertampik makin hari rindu ini tak ubahnya seperti tanaman yang membutuhkan siraman tiap harinya, maka setiap kali media sosial kujelajahi berandamu pun tak pernah alfa kusatroni. Kujajaki semua ruang yang ada sampai keruang paling kecil, pada berandamu aku dikenalkan pada sosok gadis pujaanmu yang sempat membuatku panas hati tapi cepat kutangkis karna aku sadar “siapa aku?”. Lalu aku dikenalkan pula pada sosok yang sangat kau kagumi yang sampai saat ini aku hanya mengenal kebaikannya tanpa tau siapa”beliau” yang kau maksudkan. Aku dikenalkan pula pada duniamu, dunia yang tak akan mungkin aku tahu jika aku tak menemukan alamat ruang ekspresimu. Hanya itu yang dapat aku lakukan sampai hari ini. Jika tak ada lagi tulianmu harus dengan cara apalagi aku obati rindu yang tak berkesudahan ini ?  Maka janganlah kamu berhenti menulis sampai kau mau bercengkrama dengan kerinduanku.


Penghujung November, 2013

Jumat, 22 November 2013

SEKANTONG TEH HANGAT



SEKANTONG TEH HANGAT

Indah Novita

Aku tau letih pun dirasanya. Kaki tak lagi gentar, pundak kian melayu tapi berbaik ia biarkan tubuh gopahku menambahi bebannya. Badai begitu dahsyat hempas kami yang lesu, tapi pundaknya tetap berbagi padaku. Gontai aku berjalan maka dipapah, dituntun, dan melangkah erat bersama ketulusannya. Akhirnya sampai pada puncak, aku jatuh. Aku rasai tubuhnya kokoh kusandari, kehangatan jiwa membias bangunkan dari tidur yang tak kukehendaki.
Bala bantuan berkerumun kelilingiku, tapi tak kutemukan ia diantaranya. Ya teman, dia menghilang. Warna jingga hiasi langit senja, ini kali ketiganya aku memijak bukit yang sama dan aku tetap terpesona. Ketika langit menghitam maka aku cukupkan cerita dalam rimba hari ini.
+++

Celah ranting mengemuning, kutemui waktu menyelusupkan surya di celah pepohanan. Daun pintu tenda kubuka perlahan dingin begitu menusuk tulang padahal matari sudah dipertiga ufuk timur dan mata terbelalak kudapati ia bersila di depan tenda yang semalaman jadi tempat lepaskan peluhku. “Pagi ndul. Nih ada roti, dimakan yaa” katanya mengawali hari. Aku hanya tersenyum dan memandangi matari pagi. “Yeee..kok bengong si? Buruan dimakan,” segera kulukis roti tawar itu dengan susu coklat kental manis darinya. “Diabisin yaa..” sambil menyumbang senyum, “iya kakak..” kataku tetap dengan memandang matari.
Hari ini kami akan usaikan cerita sesampainya di daratan paling bawah. Menjauhi 2958 Mdpl makin kurasakan segala daya tak lagi miliknya sendiri, upaya ia tumpahkan penuh dan berbagi selalu denganku. Sepanjang tinggalkan jejak menuju kaki bukit kami terus bercengkrama, sesekali sunyi karna nafas yang tinggal segayungan.
Kabut penuhi pandangan dan tak lama butir air mulai basahi tanah-tanah yang terpijak, dan dengan kehatian kami lanjutkan perjalanan, berhenti sejenak pun hanya untuk peroleh sejumput oksigen rambati lubang udara. Tampak wajahnya melayu, maka ku persilahkan ia beristirahat. . “Istirahat dulu yuk kak,” aku menghentikan langkah begitu pula dengannya. Sepertinya lembah terjal yang baru saja kulalui menguras habis sisa tenaga ini, ditambah dengan hujan yang tak kunjung reda.
 “Masih kuat kan Ndul ?”
“kuat dong. Kak eman juga masih kuat gendong aku kan tapinya?”
“kamu pasti capek banget ya? Aku bawain ya tasnya”
“ahaha becanda lagi kak. Aku masih kuat kok. Beneran deh..”
Benar-benar aku tak mampu lihatnya dalam kelelahan yang amat seperti itu, tapi aku pun tak mampu musnahkan letihnya. Berdoa semoga kedua kakinya dapat menopang segala yang dipikulnya, begitu pula dengan pundak yang ada tuk tempatku bersandar kala aku benar-benar tak mampu berdiri sendiri lagi, hanya itu yang mampu aku perbuat.
Hujan yang tak urung pergi buat paru-paru kian bergidik dan ku putuskan untuk meneruskan perjalanan, “kak eman jalan lagi yuk kak” ajakku. Namun ia mencegah, katanya kami harus menunggu barang lima sampai sepuluh menit lagi sampai hujan sedikit mereda. Dengan sedikit waswas pada paru-paruku, aku duduk kembali.
Lima belas menit sudah lalu, hujan pun tak menunjukkan tanda akan bersahabat. Kulihat wajahnya masih tetap sama tergores letih. Maka kali ini aku benar-benar harus lanjutkan perjalanan sendiri.
“Kak, aku duluan ya.. kak eman disni aja dulu tunggu yang lain sampe ujannya reda.”
“kamu ada senter ndul?”
“ga ada kak, insyaallah sebelum gelap udah bisa makan mie rebus di warung Mang Idih”
Sungguh aku berjalan sendiri menyusuri kesunyian dibalik gemericik hujan. Namun tetap berpengharapan ia muncul dengan ketulusannya temani aku kembali disini.
Hektometer  pertama tak nampak, hektometer kedua tak jua kulihat dirinya, hektometer ketiga dan keempat kembali ku tengok dan benar tak ada niat sepertinya ia untuk pedulikan ketakberdayaanku kini. Sepi melangkah sendiri dan menghujat sumpah serapah aku padanya.
“heeeyyy..” suaranya menggema tidak hanya ditelinga tapi sampai ke relung jiwa. Aku tengok dan berbahagia luar biasa kudapati dirinya terengah hampiri aku. Tuhan sungguhkah benar ketulusan itu milikku?.
+++

Tak sesuai perkiraan. Hari mulai gelap, kami belum juga jumpa dengan pemukiman dan bertemu aku dengan kawan lainnya dipinggir lintasan menurun. Suara adzan berkumandang,  kami cukupkan langkah kaki ini sejenak dan merenung serta mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan pada kami. Selama menunggu, hujan dan angin tak juga menyerah terjang kami. Untuk kedua kalinya hampir saja aku biarkan tubuh ini tumpas, tapi melihat wajahnya yang mulai letih rasanya raga seakan menguat dengan sendirinya.
Tapi tak dapat aku bertele dengan makin terhimpitnya ruang gerak paru-paruku, “semuanya aku duluan yaa..” maka kembali berjalan menyusuri rimba pekat malam ini sendiri. Tak kusadari seorang telah berdiri disampingku, “gue temenin ya dek, sini gue gandeng.” Aku hanya tersenyum kemudian di genggamnya jemariku yang mulai kaku dan kami berjalan tanpa dirinya.
Senter yang hanya mampu menerangi setapak jalan membuat langkah melambat, bebatuan yang tak tertata sesekali membuat kaki oleng tersandung. Seorang berteriak dari kejauhan, ya teman itu suaranya. Betapa aku tersanjung kembali dengan lakunya itu.
Kami terus menyusuri jalan setapak yang terasa kian menyebalkan. Tak lama dikejauhan lampu neon kuning yang pancarkan cahaya biar meremang tapi pancaran bahagianya bukan main untuk kami semua. Ya kami sampai di akhir perjalanan. Tapi cerita ini belum berakhir.
+++

Kulihat wajah-wajah pasi setengah gembira meriung di alun-alun bercerita suka cita, tapi aku tak tertarik. Aku mencari kursi yang siap kutopangi dengan semua beban yang kubawa dan aku siap beristirahat. Baru saja mulai masuki dunia indah, seseorang berseru, “ndul kamu baik-baik kan ?” aku terbangun. Tepat pada wajahku yang menyemu berhadap lurus dengan kelopak matanya, kulihat pada wajahnya terbaring kedamaian surga,  ia bagai sebuah langkah yang kudaki demi harapan sesuatu yang kudamba, seperti sentuhan kehidupan ketika jiwa kita sendirian sangat sunyi, teduh dan nyaman. Ia pastikan aku dalam keadaan baik, dan aku pun tak akan berkata lain selain “iya..aku baik-baik aja kok,” dengan bibir menyimpul ketenangan ia tinggalkanku.
Aku tatap punggungnya sampai menghilang dari pandangan dan tak sadar mata telah terpejam kembali. Tapi tak lama ia kembali dan menyentuh lembut tanganku sekejapan, aku pun membuka mata dari tidurku. “Ndul, aku gak yakin kamu jujur. Kamu kalo ga kuat bilang ya,” Sekali lagi ia pastikan kondisiku yang kian menjamur ini, dan kembali aku berkata “ya..aku baik-baik aja kok,” ia tersenyum kemudian pergi kembali.
Entah apa maksud dari lakunya itu, sama sekali tak dapat aku artikan. Mengapa harus sekedar menanyakan kondisi? Mengapa tidak bersandar bersama dan sedikit berbagi cerita denganku? Mengapa datang kemudian pergi lagi? Aku tak tahu pesona apa yang ada pada jiwanya hingga aku ingin sekali menghayati kehidupannya. Entahlah, biar saja itu menjadi rahasianya dan aku tak perlu tahu akan hal itu. Maka kesekiankalinya aku pejamkan mata ini kembali.
Udara menusuk melalui celah pori telapak tangan yang kehilangan sarung penghangat, sungguh tubuh ini tak akan mampu bertahan lebih dari ini kiranya. Dengan mata terpejam aku tetap mencari kehangatan untuk tubuh. Kurasai tepukan pada lutut yang sedari tadi mengayuh angin, aku tegakkan tubuhku dan pasang wajah pias haru. “Nih diminum,” tuturnya lembut dan tangannya menguntai sodorkan sebuah bungkusan. Teman tahukah, sekantong teh hangat diulurkannya.
“Kak, tapi aku ga suka teh anget.”
“berarti sekarang kamu harus suka..”
“lho kok gitu kak. Aku ga suka kak jadi berasa kaya orang sakit kalo minum teh anget.”
“ucok badannya kebangetan sehat, tapi dia minum teh anget. Gak cuma orang sakit yang minum teh anget. Diminum yaa..”
Keteguk juga kehangatan itu akhirnya, pada tegukkan ketiga ia sudah meninggalkanku sendiri lagi dan kesekian kalinya aku kembali pejamkan mata. Tapi tak lama kurasai kantong teh yang kugenggam erat tertarik.
“Kak eman, ngagetin aja deh !”
“Aku pegangin aja. Kamu kayanya pules banget, takut nanti tehnya tumpah kan sayang,”
Tuhan apa lagi maksud lakunya itu ? Hatiku benar dibuat jadi miliknya kini tapi aku tak ingin menghayal untuk dapat berdampingan selalu bersamanya karna aku tak ingin kecewa. Aku hanya tersenyum, dan masih tersenyum aku sampai hari ini.


November 2013