Sabtu, 30 November 2013

Cerita Cinta



CERITA CINTA
Detak jantung terus berlantun, langkah kaki tetap bertepadu, dalam lembaran penuh warna kehidupan, angan yang terpendam akan terwujud, cita-cita yang tinggi akan tergapai dengan usaha serta keriangan dan kesungguhan itulah arti dari mencintai diri sendiri. Jika kita mencintai seseorang kita akan senantiasa untuk mendoakannya walaupun dia tidak berada di sisi kita.
Tuhan memberikan kita dua buah kaki untuk berjalan, dua buah tangan untuk memegang, dua mata untuk melihat, dua buah telinga untuk mendengar, tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati kepada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping hati lagi pada seseorang untuk kita mencarinya, itulah cinta.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kita masih mau mencoba, jangan sesekali menyerah jika kita masih merasa sanggup, jangan pernah sesekali mengatakan kita tidak mencintainya lagi jika kita masih tidak dapat melupakan. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah di kecewakan, kepada mereka yang masih percaya walaupun mereka telah di khianati, kepada mereka yang masih ingin mencintai walaupun mereka telah di sakiti sebelumya, dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.
Jangan sampai kita menyimpan kata-kata cinta kepada orang yang tersayang hingga dia meninggal dunia dan akhirnya kita terpaksa mencatat kata- kata cinta itu pada pusaranya. Sebaiknya  ucapkanlah kata-kata cinta yang tersimpan di benak kita, sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta kepada orang yang salah, sebelum bertemu pada orang yang tepat. Kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut. Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu menjadi emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai kita, tetapi lebih meyakitkan adalah mencintai seseorang dan kita tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cinta itu kepadanya. Seandainya kita ingin mencintai atau memiliki hati seseorang ibaratkanlah kita seperti menyunting sekuntum mawar merah, kadang kala kita menyium wangi mawar tersebut, tetapi ada kalanya di saat duri mawar itu menusuk jari.
Hal yang meyedihkan dalam hidup adalah kita bertemu seseorang yang sangat berarti bagi kita hanya untuk menemukan dan pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kita harus membiarkannya pergi. Kadang kala kita tidak menghargai orang yang mencintai kita sepenuh hati sehingga kita kehilangannya, pada saat itu tiada guna penyesalan karna perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar 'siapa dia sekarang!' dan bukan 'siapa dia sebelumya' kisah silam tidak perlu diungkit lagi, sekiranya kita benar-benar mencintainya setulus hati.
Hati-hati dengan cinta, karna cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu! kemungkinan apa yang kita sayangi atau mencintai tersimpan keburukan di dalamnya dan kemungkinan apa yang kita benci tersimpan kebaikan didalamnya.
Cinta kepada harta artinya bakil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri sendiri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya taqwa. Lemparkanlah seseorang yang bahagia dalam percintaan ke dalam laut pasti dia akan membawa seekor ikan, lemparkanlah pula seseorang yang gagal dalam bercinta ke dalam segudang roti pasti dia akan mati kelaparan.
Seandainya kita dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu akan berubah menjadi gong yang bergaung atau cuma sekedar cawang yang bergemerincing. Cinta adalah keabadian dan kenangan adalah hal terindah dalam cinta yang pernah dimiliki. Siapapun pandai menghayati cinta, tetapi tak seorang pun pandai menyalahi cinta, karna cinta bukanlah sesuatu objek yang bisa didapat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan. Cinta mampu melunakan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati, dan meniupkan kehidupan padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin itulah dasarnya cinta.
Cinta sebenarnya membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya seperti gambaran yang kita inginkan, jika tidak kita hanya mencintai pantulan dari diri kita sendiri yang kita temukan dari dalam dirinya. Kita tidak akan pernah tau bila kita akan jatuh cinta, namun apabila sampai saatnya itu raihlah dengan kedua tanganmu dan jangankan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya di hatinya.  Cinta bukanlah kata yang murah, tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci, jika manusia dapat melihat dan menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah, tetapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai? Itulah yang sukar untuk diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sebenarnya untuk mengecewakan lebih baik cinta itu tidak pernah hadir, karna cinta sesuatu yang membawa keindahan dan kebahagian dalam diri.
Cinta itu seperti kupu-kupu tanpa dikejar tanpa lari, tapi kalau di biarkan terbang dia akan datang di saat kita tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia, tapi sering juga bikin sedih. Tapi cinta baru berharga jika kita memberinya kepada orang yang berharga, jadi janganlah berburu-buru dan pilih yang terbaik. Cinta bukan 'bagaimana menjadi pasangan yang sempurna bagi seseorang' tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapa membantu menjadi dirimu sendiri, jangan pernah bilang 'i love you' kalo kita tidak pernah perduli, jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada, jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu untuk menghancurkan hatinya, jangan pernah menatap matanya kalau semua yang dilakukan kita hanya untuk berbohong.
Hal paling kejam yang seseorang lakukan pada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kita tidak meneriap menangkapnya. Cinta bukan 'ini salah kamu!' tapi maafkan aku, bukan 'kamu dimana sih?' tapi aku disini, bukan 'gimana sih kamu?' tapi aku ngerti kok, bukan 'coba kamu ngga kayak gini' tapi aku cinta kamu seperti kamu apa adanya.
Membandingi kertas yang paling benar bukan diukur berdasarkan kita sudah bersama, maupun kita seberapa sering bersama, tapi apakah selama kita bersama kita selalu saling mengisi satu sama lain dan selalu membuat hidup yang berkualitas. Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kita inginkan dan hanya menyayat sedalam yang kita ijinkan. Yang berat bukan bagaimana cara menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar dari dirinya.
Cara jatuh cinta, jatuh..tapi jangan teruyung-uyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah jangan terlalu banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah menyimpan semua kesedihan itu. Memang, sakit melihat orang yang kita cintai sedang berbahagia dengan orang lain. Tapi  lebih sakit lagi melihat orang yang kita cintai itu tidak berbahagia bersama kita.
Cinta akan meyakitkan ketika kita berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kita dilupakan kekasih, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kita sayangi tidak tau apa yang sesungguhnya yang kita rasakan. Yang paling menyedihkan dalam hidup ini adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kita, dan kita sudah menghabiskan waktu yang banyak untuk orang yang tidak pernah menghargainya. Kalau dia berkata tidak, maka dia tidak akan pernah berkata iya, setahun lagi atau sepuluh tahun lagi. Biarkan dia pergi! Cinta adalah semangat, cinta adalah kepercayaan, cinta adalah energi yang tidak bisa dimusnahkan, ia hanya bisa berubah bentuk. Cinta memang tak harus memiliki, karna mencintai berati memberi dan tak pernah meminta.

-Ini adalah tulisan dari sebuah rekaman seseorang yang tiba-tiba diputar oleh lepiku- 

Sabtu, 23 November 2013

segoresan



Ini kutulis atas dasar kerinduanku pada jumpa pertama dengannya.

Hai, kau yang senang berdiari pada ruang ekspresimu. Apabila kau baca ini, mungkin kau akan menertawakanku karna aku pun selalu menertawakan tingkah anehku belakangan ini. Layaknya bocah smp yang sedang mengagumi seniornya disekolah yaa seperti inilah aku sekarang. Aku hanya mampu menulis dan tak mampu biarkan tulisan ini sampai padamu.

Entah mengapa pertemuan singkat itu tak buahkan cerita yang singkat pula, hati tak jua berhenti bersua meruntutkan cerita semenjak badai hari itu. Mulai ada kerinduan yang hadir disetiap waktu memutar kehidupan, lalu dengan sony aku sampaikan kerinduanku padamu dengan kilah ucpan terimakash. Rupanya sony memiliki sifat amanah, pesan demi pesan disampai dan tersampaikan dilayarnya. Aku bahagia hari itu karna kerinduan sedikit teredam dengan pesan-pesanmu. 

Tapi ternyata membuat percakapan denganmu tak semudah menguras lautan, dan  sudah kehabisan cara kini untuk cukupkan rindu yang terus merajalela. Tak tertampik makin hari rindu ini tak ubahnya seperti tanaman yang membutuhkan siraman tiap harinya, maka setiap kali media sosial kujelajahi berandamu pun tak pernah alfa kusatroni. Kujajaki semua ruang yang ada sampai keruang paling kecil, pada berandamu aku dikenalkan pada sosok gadis pujaanmu yang sempat membuatku panas hati tapi cepat kutangkis karna aku sadar “siapa aku?”. Lalu aku dikenalkan pula pada sosok yang sangat kau kagumi yang sampai saat ini aku hanya mengenal kebaikannya tanpa tau siapa”beliau” yang kau maksudkan. Aku dikenalkan pula pada duniamu, dunia yang tak akan mungkin aku tahu jika aku tak menemukan alamat ruang ekspresimu. Hanya itu yang dapat aku lakukan sampai hari ini. Jika tak ada lagi tulianmu harus dengan cara apalagi aku obati rindu yang tak berkesudahan ini ?  Maka janganlah kamu berhenti menulis sampai kau mau bercengkrama dengan kerinduanku.


Penghujung November, 2013

Jumat, 22 November 2013

SEKANTONG TEH HANGAT



SEKANTONG TEH HANGAT

Indah Novita

Aku tau letih pun dirasanya. Kaki tak lagi gentar, pundak kian melayu tapi berbaik ia biarkan tubuh gopahku menambahi bebannya. Badai begitu dahsyat hempas kami yang lesu, tapi pundaknya tetap berbagi padaku. Gontai aku berjalan maka dipapah, dituntun, dan melangkah erat bersama ketulusannya. Akhirnya sampai pada puncak, aku jatuh. Aku rasai tubuhnya kokoh kusandari, kehangatan jiwa membias bangunkan dari tidur yang tak kukehendaki.
Bala bantuan berkerumun kelilingiku, tapi tak kutemukan ia diantaranya. Ya teman, dia menghilang. Warna jingga hiasi langit senja, ini kali ketiganya aku memijak bukit yang sama dan aku tetap terpesona. Ketika langit menghitam maka aku cukupkan cerita dalam rimba hari ini.
+++

Celah ranting mengemuning, kutemui waktu menyelusupkan surya di celah pepohanan. Daun pintu tenda kubuka perlahan dingin begitu menusuk tulang padahal matari sudah dipertiga ufuk timur dan mata terbelalak kudapati ia bersila di depan tenda yang semalaman jadi tempat lepaskan peluhku. “Pagi ndul. Nih ada roti, dimakan yaa” katanya mengawali hari. Aku hanya tersenyum dan memandangi matari pagi. “Yeee..kok bengong si? Buruan dimakan,” segera kulukis roti tawar itu dengan susu coklat kental manis darinya. “Diabisin yaa..” sambil menyumbang senyum, “iya kakak..” kataku tetap dengan memandang matari.
Hari ini kami akan usaikan cerita sesampainya di daratan paling bawah. Menjauhi 2958 Mdpl makin kurasakan segala daya tak lagi miliknya sendiri, upaya ia tumpahkan penuh dan berbagi selalu denganku. Sepanjang tinggalkan jejak menuju kaki bukit kami terus bercengkrama, sesekali sunyi karna nafas yang tinggal segayungan.
Kabut penuhi pandangan dan tak lama butir air mulai basahi tanah-tanah yang terpijak, dan dengan kehatian kami lanjutkan perjalanan, berhenti sejenak pun hanya untuk peroleh sejumput oksigen rambati lubang udara. Tampak wajahnya melayu, maka ku persilahkan ia beristirahat. . “Istirahat dulu yuk kak,” aku menghentikan langkah begitu pula dengannya. Sepertinya lembah terjal yang baru saja kulalui menguras habis sisa tenaga ini, ditambah dengan hujan yang tak kunjung reda.
 “Masih kuat kan Ndul ?”
“kuat dong. Kak eman juga masih kuat gendong aku kan tapinya?”
“kamu pasti capek banget ya? Aku bawain ya tasnya”
“ahaha becanda lagi kak. Aku masih kuat kok. Beneran deh..”
Benar-benar aku tak mampu lihatnya dalam kelelahan yang amat seperti itu, tapi aku pun tak mampu musnahkan letihnya. Berdoa semoga kedua kakinya dapat menopang segala yang dipikulnya, begitu pula dengan pundak yang ada tuk tempatku bersandar kala aku benar-benar tak mampu berdiri sendiri lagi, hanya itu yang mampu aku perbuat.
Hujan yang tak urung pergi buat paru-paru kian bergidik dan ku putuskan untuk meneruskan perjalanan, “kak eman jalan lagi yuk kak” ajakku. Namun ia mencegah, katanya kami harus menunggu barang lima sampai sepuluh menit lagi sampai hujan sedikit mereda. Dengan sedikit waswas pada paru-paruku, aku duduk kembali.
Lima belas menit sudah lalu, hujan pun tak menunjukkan tanda akan bersahabat. Kulihat wajahnya masih tetap sama tergores letih. Maka kali ini aku benar-benar harus lanjutkan perjalanan sendiri.
“Kak, aku duluan ya.. kak eman disni aja dulu tunggu yang lain sampe ujannya reda.”
“kamu ada senter ndul?”
“ga ada kak, insyaallah sebelum gelap udah bisa makan mie rebus di warung Mang Idih”
Sungguh aku berjalan sendiri menyusuri kesunyian dibalik gemericik hujan. Namun tetap berpengharapan ia muncul dengan ketulusannya temani aku kembali disini.
Hektometer  pertama tak nampak, hektometer kedua tak jua kulihat dirinya, hektometer ketiga dan keempat kembali ku tengok dan benar tak ada niat sepertinya ia untuk pedulikan ketakberdayaanku kini. Sepi melangkah sendiri dan menghujat sumpah serapah aku padanya.
“heeeyyy..” suaranya menggema tidak hanya ditelinga tapi sampai ke relung jiwa. Aku tengok dan berbahagia luar biasa kudapati dirinya terengah hampiri aku. Tuhan sungguhkah benar ketulusan itu milikku?.
+++

Tak sesuai perkiraan. Hari mulai gelap, kami belum juga jumpa dengan pemukiman dan bertemu aku dengan kawan lainnya dipinggir lintasan menurun. Suara adzan berkumandang,  kami cukupkan langkah kaki ini sejenak dan merenung serta mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan pada kami. Selama menunggu, hujan dan angin tak juga menyerah terjang kami. Untuk kedua kalinya hampir saja aku biarkan tubuh ini tumpas, tapi melihat wajahnya yang mulai letih rasanya raga seakan menguat dengan sendirinya.
Tapi tak dapat aku bertele dengan makin terhimpitnya ruang gerak paru-paruku, “semuanya aku duluan yaa..” maka kembali berjalan menyusuri rimba pekat malam ini sendiri. Tak kusadari seorang telah berdiri disampingku, “gue temenin ya dek, sini gue gandeng.” Aku hanya tersenyum kemudian di genggamnya jemariku yang mulai kaku dan kami berjalan tanpa dirinya.
Senter yang hanya mampu menerangi setapak jalan membuat langkah melambat, bebatuan yang tak tertata sesekali membuat kaki oleng tersandung. Seorang berteriak dari kejauhan, ya teman itu suaranya. Betapa aku tersanjung kembali dengan lakunya itu.
Kami terus menyusuri jalan setapak yang terasa kian menyebalkan. Tak lama dikejauhan lampu neon kuning yang pancarkan cahaya biar meremang tapi pancaran bahagianya bukan main untuk kami semua. Ya kami sampai di akhir perjalanan. Tapi cerita ini belum berakhir.
+++

Kulihat wajah-wajah pasi setengah gembira meriung di alun-alun bercerita suka cita, tapi aku tak tertarik. Aku mencari kursi yang siap kutopangi dengan semua beban yang kubawa dan aku siap beristirahat. Baru saja mulai masuki dunia indah, seseorang berseru, “ndul kamu baik-baik kan ?” aku terbangun. Tepat pada wajahku yang menyemu berhadap lurus dengan kelopak matanya, kulihat pada wajahnya terbaring kedamaian surga,  ia bagai sebuah langkah yang kudaki demi harapan sesuatu yang kudamba, seperti sentuhan kehidupan ketika jiwa kita sendirian sangat sunyi, teduh dan nyaman. Ia pastikan aku dalam keadaan baik, dan aku pun tak akan berkata lain selain “iya..aku baik-baik aja kok,” dengan bibir menyimpul ketenangan ia tinggalkanku.
Aku tatap punggungnya sampai menghilang dari pandangan dan tak sadar mata telah terpejam kembali. Tapi tak lama ia kembali dan menyentuh lembut tanganku sekejapan, aku pun membuka mata dari tidurku. “Ndul, aku gak yakin kamu jujur. Kamu kalo ga kuat bilang ya,” Sekali lagi ia pastikan kondisiku yang kian menjamur ini, dan kembali aku berkata “ya..aku baik-baik aja kok,” ia tersenyum kemudian pergi kembali.
Entah apa maksud dari lakunya itu, sama sekali tak dapat aku artikan. Mengapa harus sekedar menanyakan kondisi? Mengapa tidak bersandar bersama dan sedikit berbagi cerita denganku? Mengapa datang kemudian pergi lagi? Aku tak tahu pesona apa yang ada pada jiwanya hingga aku ingin sekali menghayati kehidupannya. Entahlah, biar saja itu menjadi rahasianya dan aku tak perlu tahu akan hal itu. Maka kesekiankalinya aku pejamkan mata ini kembali.
Udara menusuk melalui celah pori telapak tangan yang kehilangan sarung penghangat, sungguh tubuh ini tak akan mampu bertahan lebih dari ini kiranya. Dengan mata terpejam aku tetap mencari kehangatan untuk tubuh. Kurasai tepukan pada lutut yang sedari tadi mengayuh angin, aku tegakkan tubuhku dan pasang wajah pias haru. “Nih diminum,” tuturnya lembut dan tangannya menguntai sodorkan sebuah bungkusan. Teman tahukah, sekantong teh hangat diulurkannya.
“Kak, tapi aku ga suka teh anget.”
“berarti sekarang kamu harus suka..”
“lho kok gitu kak. Aku ga suka kak jadi berasa kaya orang sakit kalo minum teh anget.”
“ucok badannya kebangetan sehat, tapi dia minum teh anget. Gak cuma orang sakit yang minum teh anget. Diminum yaa..”
Keteguk juga kehangatan itu akhirnya, pada tegukkan ketiga ia sudah meninggalkanku sendiri lagi dan kesekian kalinya aku kembali pejamkan mata. Tapi tak lama kurasai kantong teh yang kugenggam erat tertarik.
“Kak eman, ngagetin aja deh !”
“Aku pegangin aja. Kamu kayanya pules banget, takut nanti tehnya tumpah kan sayang,”
Tuhan apa lagi maksud lakunya itu ? Hatiku benar dibuat jadi miliknya kini tapi aku tak ingin menghayal untuk dapat berdampingan selalu bersamanya karna aku tak ingin kecewa. Aku hanya tersenyum, dan masih tersenyum aku sampai hari ini.


November 2013

Patah Air Mata Pengharapan



Patah Air Mata Pengharapan
Indah Novita Sari

“ Apa guna kau menangis nap ?”
Kembali tak kugubris tanya mamakku itu. Aku senang mematahkan air mata dari penampungannya. Ya, sejak hari itu, khayal selalu mengembalikanku pada masa jatuh harap itu. Remuk semangatku sekarang mak. Hanya kubatin.
“aku bangga nak, aku tidak akan kecewa, aku tidak akan marah. Untukku dan bapakmu, kau sudah berikan yang terbaik. Kekalahan bukanlah hal yang biadab, berani berharaplah yang membuat kita semakin beradab. Kiranya tak perlu kau merugi atasnya”
Malam sebelumnya. Dengan sejuta rasa kurakit sajak secantik mungkin sampai nasihatpun kuminta dari banyak golongan. Doa dari mereka yang kuyakini benar tulus memberinya pun kupinta. Kukirimi pesan singkat sanak saudara dan kerabat dekat dengan ponsel yang kupinjam dari bapak, kuminta restu atas pengharapan esok hari. Dengan restu kiranya keyakinan itu kan bertambah sempurna bukannya ?.
Pagi buta, aku cukupkan kantuk yang semalaman bersarang. Beberapa balasan pesan singkat yang kukirim malam tadi terlihat dimuat pada layar ponsel. Ponsel yang sedari malam kubekap itu mulai ku gerayangi pencetannya, kubacai balasan pesan-pesan itu. Doa banyak terlampir, dukungan dan harapan juga tak kalahnya. Rasanya keyakinan kini milikku seorang.
Dengan bekal semua itu aku berangkat meninggalkan ceria menyambut pedih yang sebelunya tak kuduga tentunya. Dengan si rayap, motor yang tinggal tunggu mautnya, bapak antar aku ke tempat itu. Tempat yang menjadi saksi bisu atas kepedihan yang tak dikehendaki rasaku.
“semangat nak, berikan yang terbaik. Kiranya perlu aku minta maafmu, atas tak berdayanya diriku dan mamakmu untuk dapat menyaksikan kau bersolek di pentas”
“Tak apa pak, doa pun cukup”
Bapak dan mamakku memang teramat pingin melihat putri sulungnya ini ada diatas pentas, namun kami tak cukup beruang. “ Bapak pasti tak henti memanjat doa untukmu” sekali lagi bapak berkata, terlihat penyesalan amat dimukanya. “Aku memang tak pandai dikelas, ditanya adik-adik soal pelajaran pula aku tak mampu menjawab. Tapi yakinlah diri kini membawa semua hadiah jika semua restu milikku seorang pak.” Aku mantapkan kata-kataku barusan. “Hati-hati pak” kataku sambil melambai. Bapak bersama si rayap hilang sudah dari penglihatan.
            Mulai kujajaki tempat pertunjukan itu. Satu-satu sainganku mulai berdatangan. Dalam otak ku kini sudah digelar pesta. Dimana kupikirkan pulang nanti akan kubawakan bapak, mamak, dan adik-adikku membeli sandang baru dengan hadiah yang kubawa pulang. Kupikirkan uang-uang itu akan kubelikan semua yang aku ingin punya, dan kupikirkan tempat dimana kelak piagam atas kemenanganku dipajang. Ya semua pikiran ini berpesta penuhi sela-sela otakku.
Kemunculan pemandu acara diatas pentas mengakhiri pesta dalam otakku dan dengan bersamaan memulai pula jalannya acara yang sesungguhnya. Saingan demi saingan menunjukkan aksinya diatas pentas. Tiba pada urutan ke-28, “ Zainap Damanta” namaku disebut pemandu acara. Jantungku memompa darah jauh lebih giat, suaranya terdengar sampai ke segala belahan dunia, mungkin. Dengan doa sebelumnya aku mulai beranjak menuju pentas. Semua mata kini bergilir menatap keberadaan diriku, juri pun sudah siap menggoreskan tinta pada selembar kertas dimana nilai atas kemampuanku dan peserta lain berada didalamnya. Kutarik nafas panjang menenangkan diri. Segala kemampuan mulai kutumpahkan memanja indra pengelihatan mereka semua.
Usai sudah, namun jantung tak juga berhenti mengurangi kecepatannya memompa darah. Kurasai tubuhku gemetar, kini aku hanya bisa berdoa dan berharap.
Peserta dengan urutan ke-78 menutup pentas dengan sempurna, tepuk tangan berirama didapatnya. Memang benar-benar sempurna, caranya menatap penonton, caranya berdiri, caranya berliuk. Benar-benar sempurna.
Perlombaan usai, kini tiba penantian semua peserta. Ya pengumuman pemenang. Aku tidak yakin akan jadi yang terbaik, tapi setidaknya perak atau perunggu pun aku terima. Paling tidak, tak benar-benar dibuatnya bapak dan mamak kecewa karenaku.
“Perunggu, diberikan kepada peserta dengan nomor urut.....” pembawa acara memutuskan kalimatnya, jantungku semakin gentar memopa darah. “ Du-a pu-luh, kepada Siti Rahmadani dipersilahkan menaiki pentas” air mata mulai patah sediki- sedikit. Namun, masih dalam harapan aku yang akan mendapat peraknya.
“Peserta terbaik kedua, dengan piala perak jatuh kepada.......” kembali diputusnya kalimat si pembawa acara. Aku menutup telinga, tapi masih mencoba membaca komat-kamit dari orang itu, ternyata bukan aku. Peserta dengan nomor 78 mulai menjajaki pentas. Dialah penerima peraknya. Sebentar, dia nomor urut 78 ?. Dia si nomor urut 78,  peserta dengan perolehan irama tepuk tangan, peserta yang kukira membawa pulang emasnya. Seketika, kala itu juga aku mematung, membisu sendiri. Tuhan, aku kah yang akan membawa tropi terbaik nantinya ?. Aku berfikir sejenak. Mungkinkah selama 20menit yang kupakai menelepon mamak tadi banyak menampilkan penampil-penampil terbaik ?.
            Tubuhku lemas tak berdaya. Didepan, pembawa acara masih sibuk berkomat-kamit mengulur penobatan peserta terbaik. Makin hilang arah diri ini. Keyakinan yang semula kukira hanya milikku kini lenyap, kalah dengan ketakutan dan ketaksanggupanku terima kenyataan yang tak sesuai harapan.  Aku berdiri dari tempat duduk yang kusinggahi, tak sudi kiranya kutetap berada di tempat ini. Sangatlah aku tak beryakin namaku kan kudengar penuhi undangan naik ke pelataran pentas. Dengan berjuta penyesalan aku turuni anak tangga, aku meninggalkan tempat itu.
Patah sudah air mata pengharapan itu. Entah berapa puji yang teraniaya, entah berapa doa yang sia, entah berapa semangat yang mati ketika tak satu pun aku yakin tak termasuk diriku didalamnya. Aku tak tahu betul.
Sejak tibanya aku dirumah setelah pementasan itu, aku makin tak semangat untuk menjalankan rutinitasku. Makan pun aku tak sanggup kiranya. Bapak dan mamakku berulang kali yakinkan bahwa tak kecewa mereka pada putrinya ini. Tapi patah air mata tak jua berhenti guyur segala pengharapan yang telah sirna.



Depok, Desember 2012