Patah Air Mata
Pengharapan
Indah
Novita Sari
“ Apa guna kau menangis nap ?”
Kembali tak kugubris tanya mamakku itu. Aku senang
mematahkan air mata dari penampungannya. Ya, sejak hari itu, khayal selalu
mengembalikanku pada masa jatuh harap itu. Remuk semangatku sekarang mak. Hanya
kubatin.
“aku bangga nak, aku tidak akan kecewa, aku tidak
akan marah. Untukku dan bapakmu, kau sudah berikan yang terbaik. Kekalahan
bukanlah hal yang biadab, berani berharaplah yang membuat kita semakin beradab.
Kiranya tak perlu kau merugi atasnya”
Malam sebelumnya. Dengan sejuta
rasa kurakit sajak secantik mungkin sampai nasihatpun kuminta dari banyak
golongan. Doa dari mereka yang kuyakini benar tulus memberinya pun kupinta. Kukirimi
pesan singkat sanak saudara dan kerabat dekat dengan ponsel yang kupinjam dari
bapak, kuminta restu atas pengharapan esok hari. Dengan restu kiranya keyakinan
itu kan bertambah sempurna bukannya ?.
Pagi buta, aku cukupkan kantuk yang
semalaman bersarang. Beberapa balasan pesan singkat yang kukirim malam tadi terlihat
dimuat pada layar ponsel. Ponsel yang sedari malam kubekap itu mulai ku
gerayangi pencetannya, kubacai balasan pesan-pesan itu. Doa banyak terlampir,
dukungan dan harapan juga tak kalahnya. Rasanya keyakinan kini milikku seorang.
Dengan bekal semua itu aku berangkat
meninggalkan ceria menyambut pedih yang sebelunya tak kuduga tentunya. Dengan
si rayap, motor yang tinggal tunggu mautnya, bapak antar aku ke tempat itu.
Tempat yang menjadi saksi bisu atas kepedihan yang tak dikehendaki rasaku.
“semangat nak, berikan yang terbaik. Kiranya perlu aku
minta maafmu, atas tak berdayanya diriku dan mamakmu untuk dapat menyaksikan
kau bersolek di pentas”
“Tak apa pak, doa pun cukup”
Bapak dan mamakku memang teramat pingin melihat
putri sulungnya ini ada diatas pentas, namun kami tak cukup beruang. “ Bapak
pasti tak henti memanjat doa untukmu” sekali lagi bapak berkata, terlihat
penyesalan amat dimukanya. “Aku memang tak pandai dikelas, ditanya adik-adik
soal pelajaran pula aku tak mampu menjawab. Tapi yakinlah diri kini membawa
semua hadiah jika semua restu milikku seorang pak.” Aku mantapkan kata-kataku
barusan. “Hati-hati pak” kataku sambil melambai. Bapak bersama si rayap hilang
sudah dari penglihatan.
Mulai
kujajaki tempat pertunjukan itu. Satu-satu sainganku mulai berdatangan. Dalam
otak ku kini sudah digelar pesta. Dimana kupikirkan pulang nanti akan kubawakan
bapak, mamak, dan adik-adikku membeli sandang baru dengan hadiah yang kubawa
pulang. Kupikirkan uang-uang itu akan kubelikan semua yang aku ingin punya, dan
kupikirkan tempat dimana kelak piagam atas kemenanganku dipajang. Ya semua
pikiran ini berpesta penuhi sela-sela otakku.
Kemunculan pemandu acara diatas
pentas mengakhiri pesta dalam otakku dan dengan bersamaan memulai pula jalannya
acara yang sesungguhnya. Saingan demi saingan menunjukkan aksinya diatas
pentas. Tiba pada urutan ke-28, “ Zainap Damanta” namaku disebut pemandu acara.
Jantungku memompa darah jauh lebih giat, suaranya terdengar sampai ke segala
belahan dunia, mungkin. Dengan doa sebelumnya aku mulai beranjak menuju pentas.
Semua mata kini bergilir menatap keberadaan diriku, juri pun sudah siap
menggoreskan tinta pada selembar kertas dimana nilai atas kemampuanku dan
peserta lain berada didalamnya. Kutarik nafas panjang menenangkan diri. Segala kemampuan
mulai kutumpahkan memanja indra pengelihatan mereka semua.
Usai sudah, namun jantung tak juga
berhenti mengurangi kecepatannya memompa darah. Kurasai tubuhku gemetar, kini
aku hanya bisa berdoa dan berharap.
Peserta dengan urutan ke-78 menutup
pentas dengan sempurna, tepuk tangan berirama didapatnya. Memang benar-benar
sempurna, caranya menatap penonton, caranya berdiri, caranya berliuk.
Benar-benar sempurna.
Perlombaan usai, kini tiba
penantian semua peserta. Ya pengumuman pemenang. Aku tidak yakin akan jadi yang
terbaik, tapi setidaknya perak atau perunggu pun aku terima. Paling tidak, tak
benar-benar dibuatnya bapak dan mamak kecewa karenaku.
“Perunggu, diberikan kepada peserta
dengan nomor urut.....” pembawa acara memutuskan kalimatnya, jantungku semakin
gentar memopa darah. “ Du-a pu-luh, kepada Siti Rahmadani dipersilahkan menaiki
pentas” air mata mulai patah sediki- sedikit. Namun, masih dalam harapan aku
yang akan mendapat peraknya.
“Peserta terbaik kedua, dengan piala perak jatuh
kepada.......” kembali diputusnya kalimat si pembawa acara. Aku menutup
telinga, tapi masih mencoba membaca komat-kamit dari orang itu, ternyata bukan
aku. Peserta dengan nomor 78 mulai menjajaki pentas. Dialah penerima peraknya.
Sebentar, dia nomor urut 78 ?. Dia si nomor urut 78, peserta dengan perolehan irama tepuk tangan,
peserta yang kukira membawa pulang emasnya. Seketika, kala itu juga aku
mematung, membisu sendiri. Tuhan, aku kah yang akan membawa tropi terbaik
nantinya ?. Aku berfikir sejenak. Mungkinkah selama 20menit yang kupakai
menelepon mamak tadi banyak menampilkan penampil-penampil terbaik ?.
Tubuhku
lemas tak berdaya. Didepan, pembawa acara masih sibuk berkomat-kamit mengulur
penobatan peserta terbaik. Makin hilang arah diri ini. Keyakinan yang semula
kukira hanya milikku kini lenyap, kalah dengan ketakutan dan ketaksanggupanku
terima kenyataan yang tak sesuai harapan. Aku berdiri dari tempat duduk yang kusinggahi,
tak sudi kiranya kutetap berada di tempat ini. Sangatlah aku tak beryakin
namaku kan kudengar penuhi undangan naik ke pelataran pentas. Dengan berjuta
penyesalan aku turuni anak tangga, aku meninggalkan tempat itu.
Patah sudah air mata pengharapan
itu. Entah berapa puji yang teraniaya, entah berapa doa yang sia, entah berapa
semangat yang mati ketika tak satu pun aku yakin tak termasuk diriku didalamnya.
Aku tak tahu betul.
Sejak tibanya aku dirumah setelah
pementasan itu, aku makin tak semangat untuk menjalankan rutinitasku. Makan pun
aku tak sanggup kiranya. Bapak dan mamakku berulang kali yakinkan bahwa tak
kecewa mereka pada putrinya ini. Tapi patah air mata tak jua berhenti guyur
segala pengharapan yang telah sirna.
Depok, Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar