Jumat, 22 November 2013

Patah Air Mata Pengharapan



Patah Air Mata Pengharapan
Indah Novita Sari

“ Apa guna kau menangis nap ?”
Kembali tak kugubris tanya mamakku itu. Aku senang mematahkan air mata dari penampungannya. Ya, sejak hari itu, khayal selalu mengembalikanku pada masa jatuh harap itu. Remuk semangatku sekarang mak. Hanya kubatin.
“aku bangga nak, aku tidak akan kecewa, aku tidak akan marah. Untukku dan bapakmu, kau sudah berikan yang terbaik. Kekalahan bukanlah hal yang biadab, berani berharaplah yang membuat kita semakin beradab. Kiranya tak perlu kau merugi atasnya”
Malam sebelumnya. Dengan sejuta rasa kurakit sajak secantik mungkin sampai nasihatpun kuminta dari banyak golongan. Doa dari mereka yang kuyakini benar tulus memberinya pun kupinta. Kukirimi pesan singkat sanak saudara dan kerabat dekat dengan ponsel yang kupinjam dari bapak, kuminta restu atas pengharapan esok hari. Dengan restu kiranya keyakinan itu kan bertambah sempurna bukannya ?.
Pagi buta, aku cukupkan kantuk yang semalaman bersarang. Beberapa balasan pesan singkat yang kukirim malam tadi terlihat dimuat pada layar ponsel. Ponsel yang sedari malam kubekap itu mulai ku gerayangi pencetannya, kubacai balasan pesan-pesan itu. Doa banyak terlampir, dukungan dan harapan juga tak kalahnya. Rasanya keyakinan kini milikku seorang.
Dengan bekal semua itu aku berangkat meninggalkan ceria menyambut pedih yang sebelunya tak kuduga tentunya. Dengan si rayap, motor yang tinggal tunggu mautnya, bapak antar aku ke tempat itu. Tempat yang menjadi saksi bisu atas kepedihan yang tak dikehendaki rasaku.
“semangat nak, berikan yang terbaik. Kiranya perlu aku minta maafmu, atas tak berdayanya diriku dan mamakmu untuk dapat menyaksikan kau bersolek di pentas”
“Tak apa pak, doa pun cukup”
Bapak dan mamakku memang teramat pingin melihat putri sulungnya ini ada diatas pentas, namun kami tak cukup beruang. “ Bapak pasti tak henti memanjat doa untukmu” sekali lagi bapak berkata, terlihat penyesalan amat dimukanya. “Aku memang tak pandai dikelas, ditanya adik-adik soal pelajaran pula aku tak mampu menjawab. Tapi yakinlah diri kini membawa semua hadiah jika semua restu milikku seorang pak.” Aku mantapkan kata-kataku barusan. “Hati-hati pak” kataku sambil melambai. Bapak bersama si rayap hilang sudah dari penglihatan.
            Mulai kujajaki tempat pertunjukan itu. Satu-satu sainganku mulai berdatangan. Dalam otak ku kini sudah digelar pesta. Dimana kupikirkan pulang nanti akan kubawakan bapak, mamak, dan adik-adikku membeli sandang baru dengan hadiah yang kubawa pulang. Kupikirkan uang-uang itu akan kubelikan semua yang aku ingin punya, dan kupikirkan tempat dimana kelak piagam atas kemenanganku dipajang. Ya semua pikiran ini berpesta penuhi sela-sela otakku.
Kemunculan pemandu acara diatas pentas mengakhiri pesta dalam otakku dan dengan bersamaan memulai pula jalannya acara yang sesungguhnya. Saingan demi saingan menunjukkan aksinya diatas pentas. Tiba pada urutan ke-28, “ Zainap Damanta” namaku disebut pemandu acara. Jantungku memompa darah jauh lebih giat, suaranya terdengar sampai ke segala belahan dunia, mungkin. Dengan doa sebelumnya aku mulai beranjak menuju pentas. Semua mata kini bergilir menatap keberadaan diriku, juri pun sudah siap menggoreskan tinta pada selembar kertas dimana nilai atas kemampuanku dan peserta lain berada didalamnya. Kutarik nafas panjang menenangkan diri. Segala kemampuan mulai kutumpahkan memanja indra pengelihatan mereka semua.
Usai sudah, namun jantung tak juga berhenti mengurangi kecepatannya memompa darah. Kurasai tubuhku gemetar, kini aku hanya bisa berdoa dan berharap.
Peserta dengan urutan ke-78 menutup pentas dengan sempurna, tepuk tangan berirama didapatnya. Memang benar-benar sempurna, caranya menatap penonton, caranya berdiri, caranya berliuk. Benar-benar sempurna.
Perlombaan usai, kini tiba penantian semua peserta. Ya pengumuman pemenang. Aku tidak yakin akan jadi yang terbaik, tapi setidaknya perak atau perunggu pun aku terima. Paling tidak, tak benar-benar dibuatnya bapak dan mamak kecewa karenaku.
“Perunggu, diberikan kepada peserta dengan nomor urut.....” pembawa acara memutuskan kalimatnya, jantungku semakin gentar memopa darah. “ Du-a pu-luh, kepada Siti Rahmadani dipersilahkan menaiki pentas” air mata mulai patah sediki- sedikit. Namun, masih dalam harapan aku yang akan mendapat peraknya.
“Peserta terbaik kedua, dengan piala perak jatuh kepada.......” kembali diputusnya kalimat si pembawa acara. Aku menutup telinga, tapi masih mencoba membaca komat-kamit dari orang itu, ternyata bukan aku. Peserta dengan nomor 78 mulai menjajaki pentas. Dialah penerima peraknya. Sebentar, dia nomor urut 78 ?. Dia si nomor urut 78,  peserta dengan perolehan irama tepuk tangan, peserta yang kukira membawa pulang emasnya. Seketika, kala itu juga aku mematung, membisu sendiri. Tuhan, aku kah yang akan membawa tropi terbaik nantinya ?. Aku berfikir sejenak. Mungkinkah selama 20menit yang kupakai menelepon mamak tadi banyak menampilkan penampil-penampil terbaik ?.
            Tubuhku lemas tak berdaya. Didepan, pembawa acara masih sibuk berkomat-kamit mengulur penobatan peserta terbaik. Makin hilang arah diri ini. Keyakinan yang semula kukira hanya milikku kini lenyap, kalah dengan ketakutan dan ketaksanggupanku terima kenyataan yang tak sesuai harapan.  Aku berdiri dari tempat duduk yang kusinggahi, tak sudi kiranya kutetap berada di tempat ini. Sangatlah aku tak beryakin namaku kan kudengar penuhi undangan naik ke pelataran pentas. Dengan berjuta penyesalan aku turuni anak tangga, aku meninggalkan tempat itu.
Patah sudah air mata pengharapan itu. Entah berapa puji yang teraniaya, entah berapa doa yang sia, entah berapa semangat yang mati ketika tak satu pun aku yakin tak termasuk diriku didalamnya. Aku tak tahu betul.
Sejak tibanya aku dirumah setelah pementasan itu, aku makin tak semangat untuk menjalankan rutinitasku. Makan pun aku tak sanggup kiranya. Bapak dan mamakku berulang kali yakinkan bahwa tak kecewa mereka pada putrinya ini. Tapi patah air mata tak jua berhenti guyur segala pengharapan yang telah sirna.



Depok, Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar