Jumat, 06 Mei 2016

Takdir

Takdir

Hari ini batin ku bertengkar hebat sejak fajar menyaksi hingga jingga menyambut rembulan yang memalu, batin ini masih saja mengaduh. Sebelumnya saat langit lebam aku berkali-kali ulurkan tangan dan menengadah lurus dengan ujung atap yang menjuntai dibalik jendela, rasanya dengan lembut gerimis dapat menyapa dua telapak yang mulai kehilangan keyakinan. Ku lihat dengan pasti gerimis menjelma badai, dengannya ku beri hak pula pada semesta membuncah kepenatan yang menghuni batin. Dalam badai aku lamuni yang batinku hendaki, semua berbicara tentang masa depan.

Aku mulai resah jika menyoal hidup dimasa depan. Tidak masalah selama tidak ada pilihan yang dijatuhkan. Namun kenyataan, hidup selalu memaksa ku untuk memilih satu dari pilihan yang ada, dan kekhawatir jatuh pada pilihan yang kurang tepat selalu merajut. Kali ini Tuhan menguji hatiku, pekerjaan yang sangat berat jika harus menentukan pilihan. Selama ini rasa syukur ku belum pernah berkurang dengan adanya Rama di sampingku, aku setuju akan takdirNya itu padaku. Rama adalah teman terbaik, ia selalu memahami kesalahanku. Rama selalu berkata seperti ini “jika mencintaimu aku harus merasa sakit, maka aku akan mencintai kesakitan itu.” Jika demikian baik budinya, wanita mana yang bisa menyianyiakan malaikat sepertinya.

Jalinan kasih antara diriku dengan Rama adalah yang paling khusyuk, hubungan kami ini satu takdir yang telah Tuhan gariskan. Karenanya hatiku tidak pernah mencoba mengeja nama lain, bagiku Rama selalu lebih dari cukup. Ia memang tidak sempurna tapi ia adalah orang yang selalu ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik untuk diriku. Namun ada satu takdir labuhan cinta yang sulit dibantah, Rama selalu berjanji untuk gagah memerangi takdir itu sekalipun kami percaya itu tidak akan mungkin. Semua orang juga mulai berbicara tentang aku juga Rama, “tidakkah cukup tujuh tahun lamanya?” seseorang berkata demikian. “Aku percaya takdirku adalah bersama Rama, tidak seorang pria pun mampu tandingi ia.” Kataku tetap teguh.

***

Aku mengitari sepi di pekaragan, melangkah meratap ketidakadilan. Lama melangkah, kaki menuntun menuju kebun teh yang tengah siap panen. Bu Marta sedang bersiap memilah pucuk teh yang siap ditukar uang, aku menghampiri “dimana Pak Marta Bu? Aku tidak melihatnya.” Kataku memulai percakapan.

“Atuh si Bapak lagi sakit Neng. Ibu dibantu sama Ical, ituh orangnya!” sambil menunjuk putra sulungnya.
“Loh, Ical gak kerja bu?” tanyaku
“Sedang libur Neng dia.” Jelas bu Marta

Ical menghampiri kami dengan punggung yang dibebani ranjang daun teh, ia memberi salam pada kami dan disegerakan memetik daun-daun teh. Aku ingin membantu mereka, barangkali kepenatanku dapat kulupakan sejenak. Ku hampiri Ical di tengah kebun. “Mila jangan, kamu duduk disana aja, panas. Nanti kamu jadi hitam kulitnya.” Larang Ical

“Aku ga takut item, izinin aku yaa buat bantuin kamu...”
“Tumben kamu mau main ke kebun”
“Aku selalu ke kebun, justru kamu yang tumben ada di kebun.”
“Hehe iya ya... kebetulan saya lagi libur Mil,”
“Iya aku tau, ibu kamu tadi juga udah bilang”

Matari sudah gagah berada pada puncak hari, begitu terik dan tegar menyaksi. Ku lihat bu Marta sudah kipas-kipas dengan topi caping yang mulai camping. Diikuti oleh Ical aku menghampiri bu Marta di bale, rasanya segelas air teh menjadi sangat nikmat ketika sedang merasa dalam dehaga yang luar biasa. Tidak lama aku langsung berpamitan, karna sepertinya Rama sudah menunggu di rumah. “Hati-hati Mil, terima kasih udah bantuin saya tadi.” Kata Ical. “Aku juga terima kasih karna udah dizinin untuk ngerepotin kalian.” Aku langsung berlalu.

Sampai di rumah Rama belum juga datang, ia mengirim pesan dan mengatakan bahwa ibunya memintanya untuk mengantar pergi berbelanja. Ada pesan lainnya, bukan dari Rama tapi dari nomor yang tidak ku kenal.

    Mil, ada pengajian nanti malam di rumah
    saya. Kalau ada waktu sempatkan datang yaa...
    Ical

***

Semua pertemuan bukan tanpa alasan, Tuhan menyambungkan silaturahmi antara orang satu dengan lainnya bukan tanpa alasan. Tiga pekan belakangan seseorang sibuk memberi kebaikannya padaku, pria berbudi baik dengan pemahaman iman yang terpuji. Ia memiliki yang Rama tidak miliki, tapi barang tentu yang Rama miliki tidak dimilikinya juga. Aku paham bahwa sebenar-benarnya itu bukan kekurangan melainkan takdir Tuhan, apakah kita memiliki pilihan jika memang sudah kehendakNya? Takdir itu sulit dihindari, tidak ada kemampuan untuk melawannya. Tapi pria itu, Ical, aku baru mengenalnya lebih dekat dari sebelumnya. Walau kami bertetangga tapi kami jarang berpapasan sebab kesibukan masing-masing.

Beberapa kali Ical menyanjungku, membuatku lupa akan takdirku dengan Rama. Setiap hari dikirimi pesan-pesan, ia mengkhawatirkan ku ketika aku sedang tidak dalam keadaan baik, ia memberikan apa yang aku inginkan, ia berlaku seolah-olah memiliki tanggung jawab atas diriku. Budinya baik seperti Rama, hanya dengan takdir yang lebih disukai keluargaku. Awalnya aku mengira lakunya adalah selayaknya sahabat baik, tapi kakak ku merasakan ada yang terasa lain pada hubungan kami hingga rasaku menjadi lain. Aku mulai memikirkan apa-apa nasihat yang telah dikatakan kakak, “La, kakak paham Rama itu cintamu. Tapi takdir kita dengan Rama tidak sama. Kamu harus coba membuka hatimu, tidak akan salah jika dalam hidup kita mencari yang paling baik. Mungkin benar kamu bahagia dengannya sekarang, tapi setelah kehidupan masihkah kamu bahagia dalam surgaNya?” semua yang dikatakannya itu benar.

Aku terus merasa bersalah ketika aku menerima kebaikan Ical, pada kasih mereka. Jika mereka adalah orang baik, maka memilih satu diantara keduanya adalah kejahatan. Rasa bersalah ku rasakan, bahkan ketika musik mengalun seirama dengan yang terjadi aku tidak kuasa menahan air yang muncul pada kantung mata. Aku khawatir jika harus kehilangan satu diantara mereka. Tuhan benar-benar menguji hatiku.

Entah kebenaran apa yang sampai pada telinga Ical hari itu, malamnya kami masih saling bercerita tentang masing-masing di beranda rumahnya, tapi hari berikutnya tidak satu pesan pun diberikannya padaku. Aku mencoba menghubunginya, ia manjawab seperlunya. Aku melambai keriangan padanya, ia hanya senyum dan berlalu. Aku sadar, ini kesalahanku tidak seharusnya meneriap dua cinta bila hanya memiliki satu hak saja.

***

Aku makin cemas saat ia tidak menghubungiku, aku sedih ketika tidak bisa bertemu dengannya. Ini sudah hari ketujuh dan ia masih belum mencoba menghubungiku. Aku berpikir sepertinya apa yang dikatakan kakak tentang Ical salah. Ical tidak ada rasa lain padaku, sikap baiknya murni sebagai sahabat. Tapi aku terlanjur berharap dan kagum pada kepribadian dan nilai-nilai yang ia junjung. Aku sempat memikirkan masa depanku akan dipimpin dengan imam terbaik. Tapi disisi lain Rama tetap mengindahkan aku. Kini aku hanya mengikuti kemana takdir akan membawa cintaku. Aku tahu yang ditakdirNya adalah sebaik-baiknya yang kuperoleh. Tapi baik Rama maupun Ical perlu tau bahwa aku mengagumi kalian. Aku resah bila kalian tidak menyapa pagi juga malamku. Aku juga berdoa pada Tuhan;
“Tuhan, jika aku jatuh cinta izinkan aku untuk jatuhkan hatiku pada seseorang yang melubuhkan cintanya padaMu.”




Indah Novita