Jumat, 04 Desember 2015

Berlalu...

Melepaskannya bukanlah hal yang aku inginkan dan aku tidak mampu lebih lama membiarkannya ada dalam penjaraku yang semakin kokoh. Aku pasrahkan pada takdir, entah pilihan mana yang terbaik untuk ku, tentunya apapun pilihannya akan aku coba syukuri.

Sebulan berlalu, ia belum juga pergi dari pikiranku, rupanya empat tahun belakangan ia terlalu pandai mencipta cerita-cerita cinta yang justru kini membuatku sesak. Pada layar komputer, layar laptop, juga layar hape aku masih memandang wajahnya merona penuh harap. Harapan supaya ia tidak ada dalam pilihan, karna ia bukan pilihan ia adalah kehendak hatiku. Apa hatiku hancur? Mungkin. 

Mungkin ia pergi dariku, tapi aku tidak. Aku selalu mencoba tidak alfa untuk mendapatkan kabar tentangnya. Sampai pada hari yang tak ku inginkan, kudapatkan kenyataan bahwa padanya ada cinta yang lain. Cinta yang mungkin akan membuatnya lebih bahagia, cinta yang bisa jadi jodohnya, cinta yang jelas membuat hatiku makin tak tertata. Apa? Air apa ini? Kenapa juga mataku terasa pedih, mungkin angin berhembus terlalu kencang, akan ku tutup jendelanya. Tidak, mataku mengeluarkan air lebih banyak lagi, kini aku merasa basahnya sampai pada ulu hati. Tidak boleh seperti ini. Aku harusnya bisa bernafas lega, karna aku tak perlu lagi khawatir terhadapnya, disampingnya akan selalu ada cinta lain yang juga mencintanya menjaga tiap-tiap waktu yang berlalu.

Aku mulai mengenal pria itu, ya dari media sosial juga cerita dari sahabatku. Sepertinya aku tidak pantas dibandingkan dengannya, karna jelas aku bukan tandingan yang sepadan baginya. Ia terlihat seperti pria idaman banyak wanita, sedang aku…lihat tak ada kiranya dari diriku yang dapat mengunggulinya. Aku sudah harus berlatih melihat ia dengan pilihannya.

Pekerjaan ku mulai terganggu, tapi teman-teman terus menyemangatiku. Aku mulai mencoba mengalihkan pikiranku dengan kesibukan lainnya, barangkali dengan semua kesibukan secara perlahan mampu membantu ku melupakannya. Pagi hingga senja aku bekerja, malamnya aku mencari kegiatan-kegiatan lain.

Di kantor ku banyak wanita memakai rok mini, mereka terlihat cantik dengan rambut terurai juga dengan riasan yang melapisi wajah-wajah mereka. Anehnya pikiranku tidak juga merasa tertarik pada wanita-wanita itu. Mereka memang terlihat cantik untuk dipandang dengan mataku, tapi tidak jika dipandang dengan hatiku. Di sebelah rumah, pak Karto juga memiliki putri yang cantik, perilakunya pun terpuji, namanya Nadya. Ia selalu malu-malu setiap kali berpapasan denganku. Aku pun mencoba membuka hatiku untuknya dan menaruh simpatik terhadapnya, mungkin ia dapat membantu menata kembali hatiku.

Aku sempat beberapakali pergi bersama Nadya entah sekadar mencari buku atau membeli video game. Nadya memang cantik, baik hati, menarik, juga asik, pun ia juga memberi sedikit warna pada ceritaku tiga pekan terakhir. Pada pekan keempat ini, aku mengajaknya untuk makan malam di sebuah resto dengan nuansa retro, Nadya suka retro dan itu alasanku mengajaknya ke tempat ini.

“Ren, aku suka banget tempat ini, sumpah!”
“berarti aku sukses mengenal kamu”

Nadya menatap mata ku, aku malah tersipu dan salah tingkah. “hahahaha….” Tawanya membuncah, kemudian ia terdiam lagi aku masih salah tingkah. “Ren, kalau kamu terus bersikap kaya gini….aku jadi…” ia memutus ucapnya dan aku masih tetap salah tingkah, “Ren, kok diem aja si?” lanjutnya.

“eh enggak Nad. Abis kamu bikin gemes si”
“kalo aku sayang sama kamu gimana?”
“hah?”
“haha…becanda.”

Suasana menjadi hening, apa artinya ini? Apa memang sudah waktunya? Nadya kah pilihannya? Aku bingung, aku jadi kikuk pun dengan Nadya. Ia menutupi dengan memainkan hapenya. Kami benar-benar seperti sepasang muda-mudi yang aneh, duduk satu meja tapi saling bisu. Mungkin memang Nadya orangnya. Aku mencoba membuka pembicaraan,

“Nad, di sms sama papa?
“Enggak kok Ren”
“Pertanyaan tadi ga serius aja Nad?”
Nadia diam
“hmmmm….aku sayang sama kamu Ta.”
“Ta?” ulang Nadya.

Nadya seketika meninggalkan meja kami, ia lari keluar dan aku mengejarnya. Ia berjalan dengan sangat cepat, di depan resto ia memberhentikan taxi dan segera menghilang dari pandanganku. Tuhan, apa yang barusan aku ucapkan, kenapa juga salah menyebut namanya.

Sampai di rumah aku lihat kamar Nadya mati lampunya, barangkali ia sudah tidur. Aku amat merasa bersalah kepadanya. Hape ku berbunyi, ada pesan dari Nadya rupanya.
“Tidak seharusnya kamu memaksakan hatimu jika di dalamnya masih ada Cinta yang paling dicinta. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja. Justru kamu perlu mengkhawatirkan dirimu.”

Aku pikirkan setiap perkataan Nadya. Ia benar, aku telah menipu diriku sendiri. Aku tidak cukup tangguh untuk melupakannya apa lagi sampai membencinya. Ada hal yang tidak dimiliki perempuan lain selain Cinta, hatiku. Ya hatiku masih memilihnya sampai hari ini.

Aku mencoba menenangkan diri, aku pergi ke sebuah kafe yang di dalamnya juga terdapat perpustakaan. Harapannya dengan aku ke perpustakaan aku bisa membaca buku-buku cerita sebagai wahana pelipur duka. Aku tidak membaca buku dengan baik, pikiran ku terganggu. Aku selalu menoleh ke arah rak-rak makanan disana, bukan, aku tidak lapar. Aku melihatnya, ya aku melihatnya. Ia kenakan jilbab pemberianku, juga mantel hijau yang ku belikan dari Eropa, Tuhan jangan biarkan ia melihatku. Aku berbalik badan.

“Ren…”
“Haii… Ta.”
“Ngapain disini?”
“Nugas, lu?”
“Nih belanja buat nugas juga, sorry ga bisa lama nih Ren gue harus cepet-cepet balik. Duluan ya…”
“Iya Ta”

Mati separuh otak tak berjalan sesuai fungsinya. Bola mataku terus membututinya sampai ia keluar kafe, benar saja ada Hans disana. Mereka berlalu, tapi tidak dengan pikiranku. Tidak ada buku yang ku baca, terlalu rumit otakku membaginya.

Aku beri tahu Mira tentang kejadian tadi, ia pun tak tau mesti menanggapi ceritaku seperti apa, tapi Mira juga cerita bahwa Cinta juga cerita tentunya dengan perbandingan perasaan yang sangat berbeda denganku. Kami bersahabat sejak SMA Mira, Nata, Cinta dan aku. Kami sempat merencanakan untuk berlibur bersama, memiliki banyak daftar tempat wisata untuk bergilaran di kunjungi, tapi tidak semapat itu terwujud karna renggangnya hubunganku dengan Cinta.

Aku mulai sadar, tidak lagi Cinta, bukan lagi Cinta, dan tidak melulu perkara Cinta. Aku bersungguh akan membangun kembali semuanya dari awal. Aku harus memikirkan masa depan ku, orang tuaku jadi alasan pertama mengapa aku harus memikirkan dan meraih cita-citaku. Mereka orang yang hebat yang pernah ku miliki, selalu ada, dan tidak pernah meninggalkan aku. Ya mereka tidak pernah meninggalkan ku, maka aku pun tidak akan membuat kecewa.

Enam bulan berlalu, Mira yang senang jalan-jalan mencoba menghubungi aku juga Nata dan Cinta. Semua sudah diatur denga rapi, aku pun merapikan diri. Tidak, aku tidak mencoba untuk menarik perhatian Cinta, tidak sama sekali. Aku sudah menerima segalanya, menerima Cinta sebagai sahabat, ya sahabat tidak lebih. Belakangan aku tidak ingin memikirkan wanita, aku fokus pada apa yang orang tua ku harapkan dariku, dan melihat Cinta bahagia dengan Hans aku pun senang. Baik, pekan ini kami akan belibur ke Bengkulu tiket pesawat sudah ditangan juga kotage 3 hari 2 malam telah dibooking. Akhirnya rencana yang sempat tidak terlaksana kita tidak lagi hanya menjadi wacana.

Aku bangun pagi-pagi, sarapan seadanya dan langsung berangkat menuju rumah Nata yang bersedia menjadi base camp untuk kita.

“Mir, mana Cinta?” tanya Nata.
“tau deh Ta… ga ada kabar”
“Lah terus gimana? Kita nguber pesawat juga”
“Yaudah kita jalan aja ke bandara, ntar Cinta biar nyusul. Mir, lu terus calling Cinta ya” aku mencoba mengambil keputusan.
“eh Cinta sms gue nih Ta, Ren…”
“Apaan Mir isinya?” Tanya Nata.

Mira membacakan pesannya, aku kecewa. Bukan karna Cinta tidak ikut, tapi lebih pada alasan yang melatarbelakanginya. Apa yang salah dari sikapku? Aku hanya ingin persahabatan ini tidak putus. Aku sungguh telah menghargainya dan menyayangi ia tidak lebih dari seorang sahabat. Kalau saat ini aku masih sendiri bukan karna aku masih berharap padanya, tapi memang itu pilihanku.


Indah Novita